Posted by: anaktangguh | September 13, 2008

Architecture Beratap Daun Pisang

Sanggar kami dirancang, kontribusi dari Kakak Putra Arsana dan Kakak Komang Adiartha, Kak Putra adalah alumnus jurusan arsitektur, ITB, Bandung dan Bli Komang alumnus jurusan Desain Produk, Institut Teknologi Nasional, Bandung.

Sanggar kami dirancang dengan dua bangunan utama satu aula berukuran kurang lebih 70 meter persegi dan lobby dengan ukuran 18 meter persegi. Sebagai bangunan utama, terdiri dari ruangan terbuka (aula), ruang perpustakaan dan satu ruang untuk belajar komputer. Di bangunan utama juga ada satu ruangan berukuran 12 meter persegi, ruang ini kadang dipakai sebagai dapur, kadang dipakai sebagai ruang kreatif, kadang dipakai sebagai ruang pameran. yah multi fungsilah. Toilet nya terletak di pojok kanan lahan sanggar. Keseluruhan lahan sekitar 300 meter persegi, jadi kami masih punya cukp taman dan perpustakaan terbuka.

Konsep lobby-nya dibuat seperti “bale bengong” berbentuk segi enam. Yang buat bangunan lobby ini menarik adalah atapnya yang menjulang tinggi terlihat seperti rumah Irian Jaya.. dari dalam bangunan tampak seperti ada rumah tawon besar, itu adalah joinan konstruksi atap, yang terbuat dari akar dan batang bamboo petung. Akar bamboo ini sengaja diambil oleh bli Landep di pinggir “tukad Beji” sungai tempat permandian warga desa.

Dalam perancangan, konsep awalnya adalah membangun bangunan yang bersahabat dengan lingkungan sekitar, menggunakan material lokal, dan desain yang minimalis.

Katanya “ dari meditasi dan Yoga Asana yang dilakukan kak Putra” munculah inspirasi desain, yang atapnya berbentuk daun pisang. Inspirasi ini diperkuat ketika, Kak Putra teringat sewaktu kunjungan ke lokasi persawahan “subak Kulidan” mengamati kakek-kakek pulang dari sawah saat hujan gerimis, mereka menggunakan payung dari daun pisang.

Tiang-tiang bangunan dibuat dari batu bata merah yang diekspose, yang dibuat oleh perajin batu bata dari desa Tulikup Gianyar.. Plapon terbuat dari bamboo dan konstruksinya dibuat dari kayu seseh (coconut trees).

Lantaipun di kombinasi antara keramik dan terakota (sejenis tile yang terbuat dari tanah liat), yang dibuat oleh perajin dari desa Pejaten Tabanan.


Responses

  1. Welldone komang, we proud of you, hopefully there will be a lot of young generation in our lovely village “Guwang” like you that ca bring good spirit & leadership to the social community.
    Salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: