Posted by: anaktangguh | January 21, 2009

Sound from the ricefield, river and the beach….

Suara dari sawah, sungai dan pantai……… alam adalah sekolah kami….

Di akhir tahun 2008 dan memasuki tahun 2009, merupakan tonggak bersejarah bagi dunia pendidikan nasional, karena dipenghujung tahun ini kita disentak oleh disahkanya UU BHP (Badan Hukum Pendidikan). Dengan disyahkanya UU BHP dihawatirkan membuat biaya pendidikan semakain mahal dan tidak terakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

Sepuluh tahun Reformasi yang merupakan harapan tumbuh dan berkembangnya demokratisasi dan berkurangnya kesenjangan antar kelompok sosial di masyarakat, serta tatanan yang lebih adil, ternyata semakin jauh panggang dari api. Indikasi perselingkuhan antara kuasa dan modal semakin mengemuka ke pemukaan. Mengutip tulisan I Gusti Agung Ayu Ratih bahwa “Tiba-tiba Konstitusi jadi ancaman bagi demokratisasi karena ia syaratkan peran negara sebagai pemberi jaminan sosial dan pengelola bumi, air dan kekayaan alam untuk kemaslahatan rakyat, sementara pemberi hutang menuntut demokratisasi pasar agar ada bidang merdeka bagi pusaran modal manca negara”. Kondisi kontemporer ini berdampak pada perusahaan-perusahaan negara penyalur air bersih, listrik, telepon dan tidak terlepas pula sektor pendidikan digerumiti modal asing atas nama efisiensi.

Indikasi kuatnya peran modal, yang menggeser peran negara yang seharusnya sebagai katup pengatur kesenjangan sosial, keadilan, sangatlah penting untuk diwaspadai. Bukan juga kita merindukan negara yang kuat seperti era orde baru, yang kurang memberi ruang yang demokratis terhadap pengelolaan aset-aset perekonomian.

Menolak modal tidaklah mungkin, membiarkan negara yang terlalu dominan dalam mengontrol setiap sendi-sendi kehidupan berbangsa juga bukanlah pilihan yang bijak. Dalam rangka mengeleminer ruang-ruang komoditivikasi sektor pendidikan, perlu dilakukan upaya-upaya alternatif yang sedapat mungkin mendekatkan masyarakat ke pada sumber-sumber pendidikan yang murah dan berkualitas.

Inisiatif–inisiatif yang muncul di masyarakat yang mendorong ke arah mewujudkan pendidikan murah dan berkualitas, sudah seyogyanya didukung oleh segenap stake holder. Inisiatif dan partisifasi aktif masyarakat dalam membangun sarana pendidikan alternatif dapat diamati dari tumbuhnya lembaga-lembaga yang mencari pendekatan alternatif dalam mewujudkan sarana pendidikan yang murah dan berkualitas. Beberapa contoh best practice dari Inisiatif-Inisiatif tersebut adalah kelompok “Qaryah Thayyibah” yang di polopori oleh mas Ahmad Bahruddin. Dalam buku : Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah, karya Ahmad Baharudin, terbitan LKiS, diceritakan bagaimana sekolah murah yang menggunakan rumah penggagasnya sebagai tempat belajar, mampu menghasilkan anak-anak yang dapat menggunakan bahasa Inggris sangat bagus dan SMP alternatif Qaryah Thoyyibah di Kalibening, disejajarkan dengan kampung Isy Les Moulineauk di Prancis, Kecamatan Mitaka di Tokyo, dan di lima komunitas lain di dunia, dalam penggunaan internet.

Inisiatif lain juga dapat dibaca dari buku “Sekola Rimba” Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba, karya Butet Manurung. Lembaga yang digagas oleh Butet Manurung dan kawan-kawanya, berhasil mengajarkan baca, tulis dan berhitung kepada anak-anak “rimba” yang tinggal di pedalaman hutan lindung (Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi). Dalam mengajar anak-anak mereka tidak memiliki gedung-gedung yang bertingkat, apalagi alat-alat peraga yang mewah, tetapi mereka menggunakan alam sebagai sarana dan media dalam proses pembelajaranya.

Inisiatif yang tidak kalah dahsyat juga tumbuh di Banten, di ujung barat pulau Jawa itu tumbuh lembaga yang bernama Rumah Dunia. Yang digagas oleh Bapak Gola Gong. Dengan menggunakan koleksi buku-buku pribadinya merintis perpustakaan dan bergotong-royong bersama kawan-kawanya mereka mampu mewujudkan cita-citanya mendirikan Gola Gong. Yang memberikan pelatihan menulis, teater ke pada anak-anak dan mereka berhasil mencetak penulis-penulis cilik. Bahkan salah seorang anak SMP, yang bergabung di Gola Gong mampu menulis sebuah novel yang sekarang kita dapat beli di toko-toko buku ternama di seluruh Indonesia.

Sanggar Anak Tangguh adalah salah satu tawaran alternatif dalam mengantisipasi kesenjangan di sektor pendidikan. kesenjaang pendidikan antara masyarakat kaya yang tinggal di perkotaan dan masyarakat miskin yang tinggal dipedesaan. Sanggar anak tangguh memploklamirkan diri sebagai sanggar yang mengusung pendidikan alternatif dan holistic. Mengutip pendapat Romo Mangun Wijaya tentang pendidikan alternatif, yang dimuat dalam buku: Belajar Sejati VS Kurikulum Nasional, Kekuasaan Dalam Pendidikan Dasar, karya : Y. Dedy Pradipto, mengungkapkan bahwa : Tugas utama pendidikan adalah mengatur dan menolong peserta didik untuk mengenal dan mendorong potensi dirinya agar menjadi manusia yang mandiri, dewasa dan utuh, manusia yang peduli dan solider terhadap sesama dengan jati diri dan citra yang utuh dan harmonis. Yang terpenting pula bahwa pendidikan itu diupayakan kontekstual, sesuai dengan lingkungan sekitar.

Sanggar memploklamirkan diri sebagai pendidikan alternatif dapat diamati dari proses pembangunan yang digagas oleh warga lokal dengan bergotong-royong. Menggunakan alam dan lingkungan, sebagai sarana pendidikan, seperti memanfaatkan Sawah (subak Kulidan), sepanjang aliran Sungai Wos dan ekosistem-nya, serta lingkungan pantai sebagai sarana bermain dan belajar.

Keresahan warga dalam mengamati kesenjangan sektor pendidikan di kota dan desa, kesenjangan fasilitas antara sekolah yang bertarap internasional dan lokal. Ditumpahkan dengan “gotong-royong” membangun sarana pendidikan alternative, yang diberi nama Sanggar Anak Tangguh. Gotong-royong, diwujudkan dengan partisifasi aktif warga dalam pembangunan sarana pendidikan murah yang bisa diakses oleh semua warga. Partisipasi warga dapat diamati dari adanya warga yang meminjamkan lahan, untuk dipakai sebagai lahan pendirian sanggar, ada warga yang menyumbang dana, ada yang menyumbang bambu, ada yang menyumbang pohon frangipani dan tanaman untuk taman. Yang jelas semua potensi warga dimanfaatkan untuk pembangunan sanggar. Yang menjadi desainer membantu merancang dan mengawasi pembangunan dan penataan lanscape-nya. Cok Raka seorang seniman, mantan guru matematika di SMA Cijantung Jakarta, yang juga ouwner salah satu restoran di mongkey forest road mengajar bahasa Inggris dan menggambar. Pak Suma, salah seorang warga yang berprofesi sebagai landscaper di salah satu hotel, bersedia merawat daan menata taman di sanggar. Gung Nik, salah seorang warga yang jadi guide mempromosikan aktivitas sanggar kepada touris yang kebetulan di handle, dan berhasil meyakinkan pasangan suami istri berkewarganegaraan Canada, menyumbang buku-buku sebanyak 250 judul untuk perpustakaan. Pasangan Suami Istri tersebut tertarik membantu pengembangan program “Pustaka Desa” , tidak terlepas dari profesinya sebagai guru di negaranya.

Gotong-royong, tidak hanya melibatkan komunitas lokal. Solidritas juga dibangun dengan kawan kawan yang pro dengan semangat multicultural seperti Patrick seorang mahasiswa dari gambia Africa Barat, Susan dari Ingris, Pauline dari Australia, serta Rana dari Amerika ikut membantu mengjar anak-anak bahasa Ingris. Yoshiko mengajar tari Cha Cha dan ball room.

Dalam merumuskan dan pelaksanaan program, keterlibatan orang tua sangatlah penting peranya. Orang tua atau wali anak-anak, dilibatkan dan bergotong-royong dan berkontribusi : pikiran, tenaga, waktu sesuai potensinya, dalam menghidupkan sanggar. Partisipasi orang tua diwujudkan dalam langkah nyata seperti : mereka berkontribusi menyumbang air, listrik, ada yang berkontribusi dalam penjemputan relawan, dan ada yang mengajar. Yang jelas partisipasi orang tua diharapkan sesuai kemampuan dan kesanggupanya. Dalam acara rapat para wali siswa, salah seorang pernah mengatakan “Sanggar ini akan tetap hidup jika semangat gortong royong masih hidup, dan sanggar ini akan mati, jika semangat gotong royong itu telah mati.

Penggunaan lingkungan sekitar sebagai media belajar, seperti sawah (subak Kulidan), Sungai Wos dan ekosistemnya, dan Lingkungan pantai Ketewel. Visi Sanggar Anak Tangguh adalah menjadikan semua tempat adalah sekolah, semua buku adalah ilmu dan semua orang adalah guru. Dalam mengimplementasikan visi tersebut. Anak-anak memakai potensi alam dan lingkungan sebagai sarana belajar, seperti jika mereka menggambar mereka langsung ke sawah menggambar pohon bayam atau cabe.

Pernah pada suatu hari ketika anak-anak diberikan mewarnai gambar. Gambar yang diwarnai adalah situasi peternakan, ada sapi, kambing, ayam jantan, ayam betina dan anak-anak ayam. Setelah mewarnai, diadakan presentasi, dengan menggunakan bahasa Inggris sederhana. Dalam presentasi itu, ada pengalaman lucu seorang kawan yang menjadi relawan mengajar bahasa Inggris, pada kesempatan tersebut, anak-anak diajak mempresentasikan gambar yang diwarnai oleh anak anak kelas II. Dalam presentasi tersebut, ada anak yang nanya anak ayam apa bahasa inggrisnya, padahal “pendamping anak” hanya tahu bahasa Inggris ayam adalah chiken. Pendamping sendiri tidak tahu bahasa ingris anak ayam. Disinilah konsep bahwa pendamping anak “guru” bukanlah sebagai yang maha tahu dan menguasai kelas benar-benar diterapkan. Guru atau pendamping, harus siap belajar bareng bersama anak-anak dengan membuka kamus lagi.

Anak-anak juga dapat menggambar pemandangan pantai dan mepresentasikanya dalam bahasa Inggris. Sebagai contoh anak-anak diajak kepantai dan menggambar suasana pantai yang ada disekitarnya. Anak-anak dapat menggambar suasana pantai seperti ada laut yang biru, gunung dikejauhan, pohon kelapa yang berbaris atau juga pohon enau yang menghiyasi lingkungan pura yang ada di sekitar muara sungai di tepi pantai. Setelah gambar selesai mereka dapat mempresentasikan gambarnya dalam bahasa Inggris, anak-anak mengungkapkan istilah seperti blue montain, coconut tree, dll, sesuai dengan gambarnya.

Untuk menghindari kejenuhan dan menumbuhkan rasa senag belajar dari dalam diri si anak, progaram dibuat beragam. Program tidak hanya belajar di Sanggar, tetapi sekali-sekali anak-anak juga diajak susur sungai. Tujuan acara susur sungai adalah untuk tidak hanya membuat anak menjadi cerdas tetapi juga sehat dan tangguh. Dalam program susur sungai, anak-anak belajar bahasa Inggris langsung di sungai dari benda-benda yang ada di sekitar seperti, batu bahasa inggrisnya adalah stone, air bahasa inggrisnya water, disepanjang sungai ada pohon dan binatang dijelaskan oleh fasilitator. Fasilitator dibantu dengan kartu (English Card) yang di setiap kartu ada gambar dan di bagian belakangnya ada tulisan bahasa Inggrisnya.

Pendidikan di sanggar diupayakan untuk menumbuhkan, solidaritas dan rasa ingin tahu (curiouscity). Keyakinan para penggagas tentang pentingnya belajar dan diajarkan pengorganisasian ke pada anak-anak, diperkuat oleh tulisan yang berjudul : Peniup Suling Bagi Anak Kuli, yang dipublikasikan majalah TEMPO edisi khusus Tan Malaka, dituliskan bahwa : Dalam brosur bertajuk ”SI Semarang dan Onderwijs”, Tan Malaka menguraikan dasar dan tujuan pendidikan kerakyatan. Pertama, perlunya pendidikan keterampilan dan ilmu pengetahuan seperti berhitung, menulis, ilmu bumi, dan bahasa. Hal ini sebagai bekal dalam menghadapi kaum pemilik modal. Kedua, pendidikan bergaul atau berorganisasi dan berdemokrasi. Ini untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri, dan cinta kepada rakyat miskin. Dan ketiga, pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah. Tan Malaka menegaskan, sekolahnya bukan mencetak juru tulis seperti tujuan sekolah pemerintah. Selain untuk mencari nafkah diri dan keluarga, sekolah ini juga membantu rakyat dalam pergerakannya.

Salah satu program unggulan sanggar adalah, mengenalkan pentingnya keorganisasian dan berorganisasi. Banyak kalangan yang mengangap berorganisasi bukanlah pembelajaran. Karena banyak hal yang dapat dipelajari dalam praktek berorganisasi yang tidak dapat dipelajari dalam pendidikan yang hanya menekankan ilmu pengetahuan saja. Dalam setiap kegiatan atau ivent yang diadakan, anak-anak selalu dilibatkan dalam kepanitiaan. Bahkan ketua panitianya haruslah anak-anak, sebagai contoh dalam salah satu ivent “Tri Hita Karana In Acttion” panitia intinya adalah anak-anak SMP dan seksi-seksinya adalah anak anak dari kelas lima SD ke atas, sedangkan fasilitatornya hanyalah sebagai pendamping.

Setiap anak harus dihormati potensinya, paragdigma bahwa anak yang cerdas hanyalah anak yang pintar matematika, harus digeser dengan bahwa setiap anak harus dihormati potensinya kecerdasanya. Hal ini juga diilhami oleh buku Karya Asrori S. Karni , yang berjudul “The Phenomenon”, Di Balik Buku Terlaris Dalam Sejarah Indonesia “Laskar Pelangi”. Yang memuat pendapat Dr. Howard Gardner, profesor pendidikan Universitas Harvard, tentang multiple intelligences (kecerdasan majemuk). Dalam Pandangan Dr. Howard Gardner, disebutkan setiap individu memiliki satu atau lebih dari delapan jenis kecerdasan : Lingustik, Matematis-Logis, Spatial, Kinestik–Jasmani, Musikal, Interpersonal, Intrapersonal dan Naturalis. Setiap kecerdasan secara parsial memiliki ciri dan cara tersendiri dalam mengelola informasi yang masuk ke dalam otak, namun ketika mengeluarkanya, kembali seluruh kecerdasan bersinergi dalam satu kesatuan unik.

I Komang Adiartha, S Sn.

Founder Anak Tangguh Foundation


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: