Posted by: anaktangguh | April 22, 2011

the participan of ART FAIR, Alliance Fracaise de Denpasar

Yayasan Anak Tangguh, yang lebih akrab disapa Sanggar Anak Tangguh, memproklamirkan diri sebagai sanggar yang mengusung konsep pendidikan alternative. Yang dimaksud pendidikan alternative yaitu  konsep pendidikan yang holistik dengan mengunakan media kesenirupaan sebagai salah satu medianya. Pendidikan alternative yang diterapkan dan dikembangkan, dapat diamati dari proses pembangunan yang digagas oleh warga lokal dengan bergotong-royong. Sebagai respon  atas kondisi pendidikan yang ada saat ini. Dimana semakin melebarnya kesenjangan pendidikan atara pendidikan di perkotaan dan di desa. Kesenjangan juga dapat diamati dari kesempatan untuk mengakses pendidikan antara orang kaya dan orang miskin. Dalam proses pengembangan karakter dan kecerdasan anak, sampai saat ini ada beberapa program yang telah dikembangkan yaitu : belajar bahasa inggris dengan media pantai dengan program “sand and Creativity-nya”,  program movie yang difasilitasi oleh yayasan kampung halaman Yogyakarta, telah berhasil menghasilkan 2 film yang diproduksi oleh anak-anak, filmnya dapat diakses di u-tube atau www.jalanremaja 1208.org. dengan judul sungai penuh warna dan murah meriah. Juga ada program modern dace yang didampingi oleh Yoshiko “yoyo” guru tari salsa dan Cha –cha dari Jepang. Yang jelas tetap mengacu pada pengembangan 7 jenis kecerdasan seperti yang dituturkan Howard Garner, seorang pengembang, multiple intellegences.

Dalam proses belajar, menggunakan alam dan lingkungan, sebagai sarana pendidikan, seperti memanfaatkan sawah, sungai, dan pantai sebagai media pendidikan. Sawah (subak Kulidan), Sungai, sepanjang aliran Sungai Wos dan ekosistem-nya, serta lingkungan pantai sebagai sarana bermain dan belajar. Dalam pelaksanaan programnya diupayakan semaksimal mungkin melibatkan anak-anak dalam kepanitiaan sebagai sarana dan media dalam pembelajaran berorganisasi.

Gagasan untuk menyelenggarakan pameran gambar dalam rangka memperingati hari pendidikan nasional, dilatari oleh diskusi sederhana antara pendamping dengan anak-anak program gambar. Dalam diskusi itu terlontar ide untuk menyelenggarakan pameran gambar. Program gambar di Anak Tangguh sudah dilaksanakan sejak tahun 2008.

Program gambar di Anak Tangguh dimulai sekitar bulan Maret 2008. Program gambar diberi nama “Little Picasso”. Program ini didampingi oleh Ibu Susan Phonix, seorang pensiunan guru TK dari Inggris dan Cok Raka seorang seniman asal desa Guwang. Cok Raka juga punya pengalaman sebagai guru di SMA Cijantung, Jakarta. Yang menarik dari program ini adalah anak-anak merasakan perbedaan metoda, dalam proses berkreasinya, antara metoda Barat dan Timur. Di satu sisi, Ibu Susan memberikan pendekatan dimana anak-anak diajarkan menggambar dengan memulai mengenal gradasi warna dan berkarya agak abstrak, bermain-main dengan kekuatan warna sebagai warna. Dilain pihak Cok Raka melakukan pendekatan menggambar dengan memakai metoda seperti yang biasa dilakukan seniman seniman Bali pada umumnya dalam mengajar yaitu mulai dengan meng-“orten“ atau sketsa, dimana anak-anak diajarkan menggambar dengan mensket objek-objek yang ada di sekitar. Program ini berakhir Maret, 2010. Yang menjadi prestasi puncak dari program ini adalah dengan dipilih beberapa karya anak-anak untuk dipamerkan di Amerika Serikat oleh organisasi yang bernama “Social Planet”. Karya anak-anak ini dipamerkan berbarengan dengan karya anak-anak dari Nepal dan Afrika.

Maret 2010, Program gambar “Little Picasso”, diganti dengan nama “Lempad Reborn”, nama program ini diambil berdasarkan diskusi antara Made “BAYAK” Muliana dan I Komang “ADI”artha, di mana dalam diskusi tersebut dipandang perlu membuat program dengan mengadopsi unsur–unsur lokal. Nama Lempad diambil sebagai upaya untuk mengingatkan kepada anak-anak bahwa Bali pernah memiliki seniman hebat yaitu I Gusti Nyoman Lempad, yang mana karya-karya beliau sangat khas dan berkarakter yang sudah tersohor di mata para apresiator kesenirupaan.

Yang penting, yang mengemuka dalam diskusi tersebut adalah adanya keinginan agar karya-karya lukisan yang dihasilkan mengandung kepekaan atau kritik terhadap situasi dan kondisi sosial. Melalui media melukis sebagai media membangkitkan kesadaran dan kepekaan sosialnya. Seperti yang telah diyakinkan bahwa dengan mereka belajar melukis bukan berarti mereka harus hanya menjadi pelukis, dengan memiliki skill melukis akan sangat membantu mereka untuk meraih jenjang profesi berikutnya. Sebagai contoh jika mereka bercita-cita menjadi desainer, arsitek, bahkan kedokteranpun, keahlian melukis akan dapat menunjang profesinya. Program lukis Lempad Reborn, dimulai dengan prosesi melukis mural sepanjang 50 meter x 5 meter di sepanjang jalan menuju Sanggar Anak Tangguh. Karya-karya yang dihasilkan pada awal pelaksanaan program “Lempad Reborn” pernah dipamerankan pada perayaan Hari Anak Nasional, Juli 2010.

Seiring berjalanya waktu, anak–anak semakin bersemangat berkarya setelah mengikuti beberapa kali pameran dan mengunjungi pameran baik di Bentara Budaya Bali atau di beberapa museum di Ubud. Sebagai media dalam membuka ruang apresiasi, kami berencana untuk mengadakan pameran lukisan dalam rangka merayakan Hari Pendidikan Nasional 2011.

Sampai Jumpa di

ALLIANCE FRANCAIS de DENPASAR RENON, May 8’2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: