Posted by: anaktangguh | May 6, 2011

Jiwa Anak Tumbuh Dalam Seni/L’ame d’enfant grandi dans l’art

Jiwa anak tumbuh dalam seni

Secara alamiah anak sudah memiliki seni. Sejak dini anak bisa mengembangkan imajinasi. Setiap yang dipegangnya berfungsi seturut imajinasinya. Bila diberi kesempatan dan sarana selaras dengan perkembangan syaraf motorik,  anak berusia 3 – 5 pasti bisa mencoreti apa saja, sebagai penanda bahwa anak bisa mempelajari dan menyerap segala sesuatu yang terjadi di lingkungannya. Melalui “seni visual” yaitu “coret moret”-nya pada dinding rumah, misalnya, anak belajar memahami secara khas dunia mereka. Sekarang beberapa orang tua muda punya pandangan bahwa coret – moret anaknya pada dinding rumah adalah semacam diary, memotretnya menjadi beberapa frame, sebelum melakukan pengecatan ulang.

Pada waktunya anak masuk ke dalam pendidikan formal. Disini mereka berkenalan dengan logika dan seni rupa secara terstruktur. Intervensi yang kerap terjadi bahkan tanpa menyediakan bekal kesadaran atas timbulnya beban “kerja” dari tema atau pola gambar terpilih. Fenomena gambar “dua gunung”, misalnya, menyediakan dua bidang gambar yang sulit ditaklukan dan penggarapan detilnya melelahkan. Sebelum mengisi dua bidang itu, baiknya anak  sudah punya “kunci” pembuka pikiran kritis dan dasar perspektif sehingga sadar betul bahwa faktanya terbentang jarak antara penggambar hingga ke “kaki dua gunung” itu. Tekanan psikologis makin kuat saat anak berusaha mengisi berbagai obyek ke dalam dua bidang tadi. Kegagalan intervensi kreatif yang dilakukan “pengampu” secara keras, bisa fatal akibatnya : makin tinggi jenjang kelas, seturut tuntutan obyek – obyek yang masuk di akal, makin tinggi pula tingkat kegagalan. Walhasil anak – anak sebagai subyek didik menjadi sedih bahkan tidak puas.

Jika proses semacam itu berulang dengan kuantitas yang makin banyak, maka bisa dibilang pendidikan seni telah gagal untuk terus mengundang subyek didik, secara baik – baik, agar anak mau menyentuh, melakukan berbagai eksperimen, mengeksplorasi, dan mentransformasi atau bahkan mengelaborasi kegembiraan melalui karya seni yang mereka buat. Faktanya kegagalan pendidikan seni berdampak pada pengurangan jam pelajaran, bahkan ada kecenderungan untuk menghapus, seperti apa yang terjadi di beberapa sekolah unggulan. Kecenderungan ini akan semakin teguh seturut menguatnya konstruksi pemikiran untuk bisa melukis bagus harus memiliki bakat. Jika tidak berbakat, metode belajar seni secanggih apapun hasilnya tetap tidak akan bagus.

Adalah jelas kehadiran Yayasan Anak Tangguh untuk memperkuat basis seni kepada anak menjadi strategis dan penting. Sejak Maret 2010 Yayasan Anak Tangguh memperkenalkan program “Lempad Reborn”, untuk kelas seni rupa bagi anak yang tergabung di Sanggar Anak Tangguh. Di dalam program, seperti kita baca pada situsnya terkandung maksud baik, yaitu agar hasil karya lukis anak memuat kepekaan atas situasi lingkungan dan kondisi sosial terkini. Metode pembelajaran yang disepakati adalah meramu tiga pendekatan seni rupa yang khas: tradisi, perspektif dan berpikir kritis.  Akan makin bagus bila ketiganya itu di dalam konteks L’ame d’enfant grandi dans l’art, jiwa anak tumbuh dalam seni.

Dua puluh karya lukis di atas kanvas dari anak Sanggar Anak Tangguh, menjadi materi pameran hari pendidikan nasional 2011 yang di Alliance Francaise (AF) Renon, Denpasar, Bali. Secara garis besar materi pameran terdiri dari dua tema. Pertama, tema dengan karakter superhero dan yang bukan. Karakter super – hero adalah karakter “imajiner”, yang diandaikan kerap muncul di media TV, yaitu karakter Mini dan Miki Tikus, princess (putri) di taman bunga, superhero perempuan (satu karya) dan superhero remaja lelaki (muda). Karakter non super – hero disebut juga karakter lokal, yaitu karakter yang tidak pernah sempat dibayangkan masuk media TV. Tiga karakter lokal dalam satu kanvas mengungkap bahasa visual yang menarik dicermati, separo dari wajah tiga karakter beda warna, wajah sebelah kanan beda dengan sebelah kiri. Semuanya bermata gelap, hitam tanpa cahaya putih mengingatkan saya akan style perupa senior Jeihan. Mata gelap tanpa cahaya putih  muncul lagi pada karakter lelaki memegang kapak hitam sebagai alat penebang kayu. Bandingkan dengan karakter “Peduli RI” yang bertelanjang dada riang gembira pamer gigi ompong sembari membuang sampah secara sembarangan. Dua karakter terakhir ini mencakup tema kedua, yaitu tema lingkungan hidup. Pada konteks pameran, selain dua karakter lokal yang telah dibicarakan, tema lingkungan hidup melingkupi karya – karya lukis pemandangan gunung, sungai, flora dan fauna. Tema kedua makin menarik karena memuat pesan lingkungan mulai dari isyu besar seperti gunung meletus bersanding dengan penebangan liar, sungai tercemar oleh buangan sampah, hingga ke isyu yang sangat intim di dalam pandangan anak – anak khas Bali, yaitu kesadaran bahwa jumlah bunga kamboja pada setiap batang pohon jarang lebih dari dua putik bunga.

Sebagai orang luar yang lebih banyak mendengar kisah proses program Lempad Reborn yang menarik ini, dan sebagai kawan yang diminta untuk menyampaikan apreasiasi kerja keras para pengampu dan subyek didik, anak – anak di Sanggar Anak Tangguh. Saya dengan senang hati menyitir kata – kata sakti dari para empu dan pengamat seni rupa, bahwa lukisan sebagai salah satu media ekspresi seni visual, memiliki nilai estetik. Keindahan lukisan dihadirkan pelukis melalui cara pengungkapan. Pilihan garis, grafis, obyek, hingga pewarnaan, terkait dengan pengungkapan menjadi penting di dalam sebuah lukisan. Pengungkapan menjadi menarik untuk dikaji oleh sebab pilihan visual yang dipakai sengaja ‘melenceng’ dari yang lumrah. Meski kerap ‘melenceng’, pengungkapan masih di dalam koridor norma dan aturan yang berlaku dalam seni visual.

Bisa ditengarai, setidaknya ada dua unsur yang biasa dipakai dalam pengungkapan, yaitu deviasi dan ekuivalensi. Deviasi adalah penyimpangan itu sendiri, sementara Ekuivalensi biasanya diterapkan bila terjadi pengulangan pola visual. Dalam hal seni visual, setidaknya kita bisa memilahnya ke dalam beberapa tataran : grafis, garis, pembentukan obyek, struktur obyek, warna, arti, dan teks. Sementara ekuivalensi sendiri bisa dijabarkan sebagai prinsip – prinsip yang mendasari suatu ‘seleksi dan kombinasi’. Kerap kali dalam lukisan, ekuivalensi dapat ditampilkan dengan memilih obyek serupa secara berturutan. Ekuivalensi menjelma sebagai prinsip yang dibangun berdasarkan kombinasi berturutan. Lewat ekuivalensi dapat terbentuk ekstra dimensi. Ekstra dimensi yang hadir dapat membangun arti atau pesan. Pengulangan satu obyek dalam lukisan, misalnya, dapat menimbulkan harmonisasi. Sebaliknya ekstra dimensi juga dapat tampil lewat pengulangan yang tidak lazim, atau bahkan menyalahi aturan.

Begitulah melalui pendekatan deviasi dan ekuivalensi kita bisa mengapresiasi sekaligus mengkaji ulang dunia anak Sanggar Anak Tangguh berserta proses pembelajaran dan penyaluran enersi kreatif, plus kegembiraan yang tengah berlangsung di dalam program “Lempad Reborn”. Melalui pengkajian bersama, stake holder Sanggar, setiap satu tahun “kerja”, bisa melakukan monitoring dan evaluasi, agar menjadi jelas dimana kekurangan – kelebihan di dalam mengampu (mentoring) anak pada kelas seni rupa di dalam konteks pendidikan alternatif. Lebih jauh lagi kedua puluh karya lukis dalam pameran ini, juga perlu dibaca sebagai bentuk pertanggungjawaban perihal metode pembelajaran di atas, sharing proses empiris selama lebih dari setahun kepada publik, dan yang jauh lebih penting adalah menjadi sarana latihan subyek didik untuk semakin percaya diri di dalam membuat keputusan visual.

Selamat berpameran. Jiwa anak tumbuh dalam seni, L’ame d’enfant grandi dans l’art.

Apriadi Ujiarso

Suwung Kangin, 3 April 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: