Posted by: anaktangguh | May 13, 2011

DI GUWANG ANAK TANGGUH BERJUANG

Bagi warga kota yang rindu pemandangan sawah menguning layaknya visual dalam postcard tidak perlu  jauh-jauh naik kendaraan ke Ubud atau ke Tabanan. Pemandangan “langka” ini berada di sebelah timur Denpasar, menjorok ke dalam jauh dari jalan utama. Desa Guang merupakan daerah perbatasan sebab walau dekat dengan Denpasar namun sebenarnya bagian dari Kabupaten Gianyar. Kualitas jalan menuju desa ini terlihat masih mantap dan lengang, tidak seperti jalan utama di mana kemacetan, bisingnya bunyi klakson dan polusi udara menjadi keseharian. Suasana asri sawah sangat terasa, tetapi jangan membayangkan hanya gubuk reot tempat berteduh para petani atau kandang sapi milik warga sebagai satu-satunya bangunan yang hadir petak-petak sawah. Di area persawahan Desa Guwang dengan mudah kita  melihat villa megah beratap jerami  dengan fasilitas lengkap seperti kolam renang, AC, TV dan internet milik warga asing.

            Berjamurnya villa di daerah pertanian bukanlah fenomena langka di pulau dewata ini termasuk juga di Desa Guwang. Situasi ini kadang memunculkan kengerian, bisa jadi petak-petak sawah akan tergusur dengan villa-villa mewah. Syukur satu-satunya bangunan di desa Guang ini membuyarkan sedikit rasa ngeri itu. Selain secara fisik menonjol yaitu temboknya dipenuhi mural, suasana di dalamnya juga berbeda. Masuk ke dalam anda akan melihat bangunanan pendopo, pilar bagian tengahnya bersender papan tulis yang ukurannya cukup besar. Satu kamar dari pendopo itu dipenuhi buku-buku berjajar rapi, piala-piala, dan tumpukan gambaran karya anak-anak. Sangat kontras dengan suasana di sekolah formal biasanya raut wajah kebosanan, mengantuk, dan tegang acap kali terlihat jelas di muka anak-anak, justru saat kegiatan belajar mengajar nuansa keceriaan anak-anak terasa di pendopo. Suasana riang belajar ini kita temui di “markas” komunitas Anak Tangguh. Di sana anak-anak dibebaskan dari displin-disiplin ketat, seperti mereka tidak  berpakaian seragam, tidak harus setuju dengan apa yang dikatakan gurunya, anak-anak diberikan ruang bertanya lebih luas, dan bebas berkreatifitas tanpa ada pemaksaan terhadap gaya berkesenian mereka.  Kegiatan belajar mengajar komunitas yang berdiri tiga tahun lalu ini tidak sebatas di pendopo saja, melainkan di luarnya karena itu jangalah heran anak-anak ini sangat hafal dengan seluk beluk sawah, sungai dan pantai di sekitarnya. Mereka diarahkan  untuk  akrab serta menghayati alam dan lingkungannya. Sering alam digunakan sebagai “ruang kelas”. Anak-anak bebas bertanya arti kata dalam bahasa Inggris benda-benda yang mereka temukan di pantai kepada para volunteer pengajar. Mereka juga diajak ke sawah dan sungai untuk melukis, serta dididik untuk membedakan jenis sampah yang organic dan non organic. Hal ini bisa dilihat dari dua tong sampah yang berukuran besar dekat pintu masuk sanggar.

Ketika anak–anak mengakrabi alam diharapkan tumbuh rasa cinta terhadap alamnya. Semangat mencintai alam adalah kunci perubahan yang dibutuhkan ketika respon manusia Bali terhadap globalisasi seringkali anti lingkungan. Bali adalah tempat tujuan wisata yang terkenal di seantero dunia maka tak pelak para pemodal merayu manusia Bali agar mau melepas tanah mereka. Patut diakui hilangnya sawah-sawah dan lenyapnya pohon di lembah-lembah menjadi bangunan bertingkat dan lapangan golf adalah salah satu faktor utama rusaknya alam pulau kecil ini. Jelas yang bertanggung jawab bukan hanya si pembeli, namun si penjual entah bermotif ekonomi ataupun alasan upacara. Anak Tangguh memposisikan dirinya sebagai generasi yang berjarak dengan gemerlap pariwisata. Lenyapnya sawah dan hutan adalah sebuah bentuk kekerasan bagi alam dan sekaligus kekerasan bagi anak cucu kita kedepan karena yang diwariskan adalah sebuah malapetaka. Rasa cinta alam yang berupaya dipupuk komunitas ini patut diacungkan jempol di saat godaan materi terasa sangat dahyat kuasanya, dan mampu membuat kita menyepelekan amukan alam hanya sebagai persoalan nasib semata.

 Bali menjadi daya magnet wisata karena menghadirkan keunikan budaya selain keindahan alamnya. Kesigapan ibu-ibu membuat sesajen, atau kemeriahan arak-arakan manusia mengusung wadah tempat mayat ke kuburan sering muncul dalam foto-foto, ataupun film tentang Bali. Parade “solidaritas” ini menjadi daya tarik wisata budaya sebab menghadirkan sesuatu yang “jarang” di era modern, sebuah era ketika manusia diyakini semakin individualis tak peduli sesamanya. Namun kesigapan kerumunan itu penuh ragu, jika melihat dengan seksama solidaritas itu tidak sesolid penampilannya. Sering kekompakan itu digerakan oleh rasa enggan menolak karena dihantui rasa dosa, bahkan takut karena sangsi dan hantu kesepekan yaitu pengucilan masa terhadap individu yang menyimpang dari aturan adat. Umpatan nyelekit terhadap solidaritas “saat ngaben banyak yang datang membantu, di saat hidup tidak ada yang mau menolong” adalah sebuah kritik dan harapan bahwa masalah duniawi penting juga disentuh, bukan melulu masalah ritual. Solidaritas yang dibangun komunitas Anak Tangguh berusaha menjawab persoalan ini, bahwa energi social sudah seharusnya dikerahkan untuk menangani persoalan hidup manusia mengingat banyak warga terjerembab dalam kubangan kemiskinan.

Pendidikan bermutu semakin sulit diakses. Persaingan keras di era global ini jelas menghantam manusia-manusia yang tak memiliki cukup bekal ilmu. Di saat ilmu pengetahuan menjadi barang mahal maka kaum awam yang masih bergulat dengan persoalan isi perut hanya bisa berharap terhadap takdir. Parah nya negara absen dalam persoalan ini. Sebagian besar para politisinya sibuk beretorika, bercuap-cuap manis sok-sok peduli. Komunitas Anak Tangguh memecah kebuntuan ini dengan“cukcukan”, yaitu mengorganisir diri untuk mencari sumbangan sukarela dari warga. Yang jelas mereka yang menyumbang bukan didasari oleh rasa kasihan, tetapi sumbangan yang diberikan karena merasakan kesamaan visi perjuangan yang sedang di ejawantahkan. “Cuk-cukan” bukan dalam bentuk uang saja, ada juga warga menyumbang tanaman agar sanggar terasa sejuk. Bahkan tanah tempat sanggar berdiri adalah sumbangan salah satu warga yang rela meminjamkan lahannya. Buku-buku di perpustakaan juga pemberian gratis dari teman-teman jaringan. Para pengajar sukarela dari dalam dan luar negeri mereka dapatkan melalui kenalan-kenalan.

Apa yang dibangun oleh komunitas Anak Tangguh ini mampu memberikan optimisme bahwa tidak selamanya manusia cuek dengan sesamanya, tidak selamanya skill, ilmu, serta tenaga bergerak kalau  diiming-imingi uang, dan  tidak serta merta krisis ekonomi menciptakan manusia-manusia kikir. Sama sekali tidak dikenakan biaya apapun bagi anak yang berminat belajar di Anak Tangguh, tidak hanya dikhususkan anak-anak warga sekitar namun siapa saja, entah dari mana asal mereka. Spirit solidaritas humanis yang mampu diciptakan komunitas Anak Tangguh sepantasnya berkembang biak di banjar-banjar. Kalau ini benar terjadi betapa kuatnya masyarakat sipil dalam menghadapi ganasnya dampak Globalisasi. Banjar adalah organisasi social yang memiliki kekuatan besar dan mampu menggerakan  warga dengan serentak. Bayangkan kaum cerdik pandai di banjar tergerak membagikan ilmu-ilmu mereka terhadap anggota banjar yang lain. Berbagi-bagi “kesaktian” sangatlah bermanfaat untuk menyiasati ketertinggalan, daripada hanya menggantungkan diri dengan kursus-kursus dan sekolah yang nota bene tak berkualitas dan mahal. Saatnya energi banjar disalurkan untuk membangun warganya, bukan sibuk bergulat membangun kemegahan fisik gedung-gedungnya.

Daripada gandrung menebar kecurigaan dan menyalahkan “orang luar” atau “penduduk pendatang” sebagai penyebab keresehan, sudah waktunya kita manusia Bali melakukan otokritik. Tidaklah adil jika penduduk pendatang miskin dikambing hitamkan sebagai biang kesemerawutan persoalan ekonomi, lingkungan dan kependudukan. Mereka begitu juga kita adalah korban politik pembangunan yang cenderung menganak emaskan Bali, sehingga wajar-wajar saja mereka datang menyambung hidup sebab di tempat asal mereka negara tak peduli. Beragamnya latar belakang kelas, agama, asal usul serta kewarganegraan anggota kumunitas Anak Tangguh mencerminkan perbedaan itu sebagai sebuah anugrah bukan sebagai beban. Membiasakan diri terhadap keberagaman sangat berguna untuk meredam sekat-sekat prasangka, antipati, dan ego kedaerahan/keagamaan yang semakin tampak nyata dan terasa di negeri seribu pulau ini. Solidaritas sebagai jawabannya, bukan kebencian sebab kebencian menutup kenyataan kita tidak bisa berdiri sendiri tanpa yang lainnya. Anak-anak lintas identitas ini terbiasa dalam team bahu-membahu memecahkan masalah saat kegiatan belajar mengajar. Berhadapan dengan volunteer asing mampu menghilangkan rasa kagok dan grogi sebagai anak bangsa yang seringkali merasa rendah diri dihadapan “Barat”.

“Keikhlasan” sebagai penggerak roda solidaritas Komunitas Anak Tangguh memang penting karena meminimalisir pengeluaran secara ekonomi karena tidak perlu menggaji anggota kumunitas yang menjadi relawan, anggota komunitas merasa bebas berekpresi karena tidak ada aturan ketat, dan tidak merasa sungkan untuk “berbeda” jika berhalangan hadir. Namun keikhlasan juga memunculkan permasalahan, seringkali anak-anak ditinggali para relawan di saat mereka haus dengan ilmu. Pendidikan pun mandeg karena sang relawan harus balik ke negara asal atau sang relawan sibuk dengan pekerjaannya. Tidak ada larangan untuk mencegah karena ini digerakan oleh spirit keikhlasan. Sulit membuat kurikulum pendidikan yang padu dan mantap karena energi anggota tidak bisa terfokus total sebab persoalan-persoalan pribadi juga terasa mendesak untuk diurus. Pendidikan membutuhkan kesinambungan yang mantap agar ilmu bisa ditransfer dengan total, tidak setengah-setengah. Bukan bemaksud mematahkan semangat, ibaratnya mobil tidak selamanya jalan yang dilalui lurus-lurus saja tanpa krikil, lubang, bahkan jurang. Sulit bukan berarti tidak mampu dilewati, PR solidaritas ini bagaikan sebuah babak-babak dalam lakon. Jalan cerita Anak Tangguh sedang menuju babak selanjutnya, jenis goro-goronya tidak sama dan cara penyelesaiannya juga beda.

 Terlepas dari persoalan-persoalan di atas, tetap tepuk tangan bangga dipersembahkan buat mereka karena berhasil menciptakan “maha karya”. Sekolah yang dibangun Anak Tangguh melawan jalur umum karena berdiri tanpa lembaga sponsor dan bermodal “keihklasan” semata. Sudah menjadi pergunjingan umum bahwa kegiatan kemanusiaan hanya sebuah wujud dari “proposal” cari untung atas nama proyek kemanusiaan agar lembaga dana mengulurkan “bantuan modal”. Mereka membuktikan pandangan sinis itu tidak mutlak, sebenarnya kalau manusia mau membagikan kesaktiannya kepada sesamanya maka tidak butuh modal orang-orang berkuasa untuk menghidupinya.  Harus diingat keikhlasan memiliki batas ruang dan waktu, tidak bisa semua energy dan tenaga mampu dikerahkan untuk kemanusiaan. Harapan boleh tinggi tetapi tetap realistic dan kontekstual, dibutuhkan kesabaran bahwa semuanya ini sebuah lakon ada saatnya tertawa gembira, dan ada saatnya jidat berkerut ruwet mencari solusi. Setidaknya berbagi keihklasan sebuah solusi ketika “ilmu” menjadi sebuah barang berharga bernilai tinggi yang tidak ramah dengan isi dompet. Sekarang di Guang Anak Tangguh berjuang meramu bagaimana manajemen keikhlasan bisa dibuat dengan mantap. Jika berhasil mereka akan menuju ke babak selanjutnya, entah apa, yang jelas setiap perjuangan melahirkan “ilmu”, Anak tangguh siap membaginya dengan ikhlas….

Denpasar Mei 2011

Gde Putra,

Taman 65.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: