Posted by: anaktangguh | August 4, 2011

Dua yang Sederhana dan Berbeda dari Arus Utama

Ketika diminta membuat testimoni untuk pameran foto lubang jarum Sanggar Anak Tangguh dan Komunitas Semut Ireng, saya bingung harus memulai dari mana. Saya bukan fotografer meski senang motret bermodal kemampuan ala kadarnya. Saya juga tidak tahu sama sekali tentang pendidikan alternatif seperti kawan-kawan di Anak Tangguh.

Tapi, baiklah. Saya menulis sebagai teman dua komunitas tersebut saja. Saya mengenal Anak Tangguh karena beberapa kali memberi pelatihan internet maupun menulis bersama teman-teman Bali Blogger Community (BBC) maupun Sloka Institute pada mereka. Saya mengenal juga sebagian teman di Komunitas Semut Ireng dan pernah melihat karya mereka meski tak khusus hasil jepretan dari kamera lubang jarum.

Kedua komunitas ini adalah kumpulan orang yang memilih jalur alternatif. Mereka berbeda dari arus utama (mainstream). Itu yang mempertemukan mereka. Juga saya dengan mereka.

Sanggar Anak Tangguh memberikan pendidikan di luar sekolah ketika sekolah semakin elite dan mahal bagi sebagian orang. Melalui aneka kegiatan, sanggar ini mendidik anak-anak di Banjar Wangbung, Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Gianyar dengan cara bermain di alam maupun di ruangan.

Pendidikan model Anak Tangguh ini menjadi alternatif ketika pendidikan yang konon untuk membebaskan itu justru semakin mengekang dan mahal. Saking elite dan mahalnya, I Ketut Salun, warga di Marga, Tabanan sampai bunuh diri. Dia menggantungkan diri karena takut tak bisa membiayai anaknya sekolah.

Adapun Komunitas Semut Ireng adalah bentuk alternatif yang lain. Ketika fotografi semakin praktis dengan kamera digital, anggota komunitas ini justru bergiat merekam jejak dengan peralatan sederhana seperti kaleng, sesuatu yang sering terbuang. Mereka menyebut proses itu sebagai kegiatan melukis dengan cahaya. Ketika orang butuh kecepatan dan kepraktisan, anggota Komunitas Semut Ireng justru berproses ria dalam kesabaran dan kerepotan.

Komunitas Semut Ireng memberi warna berbeda ketika Bali semakin marak dengan lahirnya komunitas-komunitas fotografi yang menjual keindahan alias foto salon. Fotografer baru terus bermunculan dengan perangkat-perangkat canggih yang sering membuat saya minder ketika ada di antara mereka.

Pameran Foto Lubang Jarum “Cerita Dalam Kaleng” pada 6 – 13 Agustus 2011

di Art Cafe Seminyak

ini mempertemukan dua kelompok yang tidak berada di arus utama, Sanggar Anak Tangguh dan Komunitas Semu Ireng. Mereka berkolaborasi untuk satu proses menarik, melukis dengan cahaya tentang hal-hal sederhana di sekitarnya: teman, sanggah, tembok, dan seterusnya.

Melalui pameran ini, dua komunitas non-mainstream ini pasti semakin menambah maraknya dunia kreatif sekaligus kegiatan alternatif di pulau ini. Mereka memberi warna berbeda lewat hal-hal sederhana.

Anton Muhajir | Blogger & wartawan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: