Posted by: anaktangguh | August 4, 2011

HANYA ALAM PENGASUH ANAK YANG TERPERCAYA

By. Cok sawitri

Baca, tulis dan menghitung; rentetan mata pelajaran yang sangat penting ini wajib dipelajari oleh semua anak di seluruh dunia, namun ada yang lebih penting lagi adalah pelajaran budi pekerti. Secara sederhana gambaran mengenai persoalan sekolah formal dari tingkat sekolah dasar hingga tingkat sekolah menengah atas adalah hanya memberikan tiga kemampuan yaitu baca, tulis dan menghitung! Bukan kemahiran, hanya kemampuan, walaupun dalam ijazah dinyatakan nilainya sepuluh, tetap saja anak-anak itu tak akan sanggup menunjukan kemahirannya menggunakan tiga dasar pelajaran itu yakni membaca, menulis dan menghitung dalam konteks bekerja ataukah proses kreatif, apalagi untuk mempertahankan hidup.

Hampir dipastikan, deretan ijazah itu dengan jumlah waktu enam tahun di tingkat sekolah dasar lalu  tiga tahun di tingkat sekolah menengah pertama, ditambah tiga tahun lagi  untuk menghasilkan jumlah dua belas tahun lamanya di bangku sekolah; namun tanpa bekal keterampilan yang memadai untuk membuat seorang anak remaja ketika tamat sekolah menengah atas dapat mulai belajar membiayai dirinya sendiri. Menjadi kelaziman yang dianggap wajar bahwa di negeri Indonesia ini seorang anak hingga di tingkat perguruan tinggi;  anak yang usianya sudah melewati usia 21 tahun masih dibiayai orang tuanya. Lebih aneh lagi, ketika usai kuliah, tetap pula saat melamar pekerjaan otomatis sistem penerimaan kerja itu mempertanyakan keterampilan lain, bukan semata ijazah dari sekolah formal, melainkan sering ditentukan penerimaan kerja seseorang adalah disebabkan oleh ijazah kursus! Anehnya lagi, masyarakat pun otomatis ‘tahu sama tahu’ bahwa disamping sekolah formal, anak-anak mereka harus ikut kursus; dari kursus bahasa Inggris sampai komputer, dari les menari hingga les semua mata pelajaran sekolah; yang dikejar adalah ‘angka’ dan yang ternyata, saat mencari kerja justru diminta adalah keterampilan yang didapat dari kursus bukan dari ‘angka’ ijazah sekolah. Walau demikian kenyataannya, masyarakat  tetap menempatkan kondisi menyekolahkan anak di sekolah formal sebagai gantungan harapan masa depan bahkan jika anak-anak mereka tidak dapat memasuki tingkat sekolah menengah atas, banyak orang tua merasa sebagai orang yang gagal! Padahal setelah itu, kisah beban orang tua membiayai anaknya atau ikut sibuk mencarikan pekerjaan menjadi ‘balada keluh kesah’ semua orang di negeri ini.

Sekolah formal di negeri ini yang sibuk dengan meng’angka’kan siswanya juga abai dengan pendidikan budi pekerti; kenapa abai? Karena pendidikan budi pekerti sulit diangkakan; dan sudah barang tentu pelajaran agama dianggap sebagai pendidikan budi pekerti yang dengan mudah diangkakan sehingga lupa bahwa urusan budi pekerti adalah proses pertumbuhan mental, emosional dan spiritual yang tak bisa diajarkan semata-mata di kelas! Banyak orang mengira lingkup pendidikan budi pekerti sebatas tata krama, kesantunan, kesalehan, kehalusan sikap, dst, padahal pendidikan budi pekerti adalah proses pembangunan kesadaran dalam diri seorang anak untuk memahami hubungan dirinya dengan sesama, dengan alam serta dengan ‘yang diyakininya’.

Ketiganya itu dapat dilakukan dengan mendorong anak-anak sejak dini memahami alam sekitarnya. Alam adalah laboratorium, yang akan mengajak anak-anak itu mengenali berbagai pohonan, berbagai binatang, bebatuan dst; yang secara alamiah kemudian mengenalkan kepada anak-anak isi alam yang mana yang bisa dimakan, yang mana yang tidak boleh dimakan; mengenalkan sejak dini, yang mana berbahaya dan yang mana bersahabat; demikian pula, alam akan mengasuh anak-anak secara otomatis memahami kehidupan sekitarnya, serta tahu dan tergugah untuk melakukan kreativitas; sebagai contoh, awal reaksi anak terhadap alam adalah membuat alat permainan, selanjutnya membuat peralatan untuk membantu dirinya mendapatkan sesuatu; suatu proses pengasuhan yang memberi keterampilan secara alamiah. Dengan pola hubungan tersebut sebagai contoh, anak akan tahu bahwa bagaimana proses buah matang di pohon, bagaimana capung lahir dari kepompong, dst; berbagai pengetahuan dari alam adalah model asuhan alam kepada ingatan anak untuk menjadikan anak-anak itu santun kepada alam sekitarnya. Sayangnya, banyak pihak yang lupa bahwa alam sesungguhnya pengasuh anak yang terpercaya, lalu mempercayakan anak-anak mereka pada pendidikan formal semata; dan pada akhirnya masa depan anak menjadi taruhannya. Ketika Sanggar Anak Tangguh mendorong anak mendekati alam dengan kamera kaleng, dapat dipastikan, bukan hanya potret semata yang dibanggakan sebagai hasil karya, namun bagaimana anak-anak itu memahami alam sekitar dan mengenali bagaimana isi alam itu tumbuh dan hilang bersama kehidupan, merasakan alam menjadi pengasuh yang utama.  (***)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: