Posted by: anaktangguh | August 4, 2011

Menggambar Dengan Kecerahan (Sebuah cerita dalam kaleng)

By Rio Helmi

Melukis dengan cahaya sesungguhnya adalah sesuatu yang kuno. Cahaya, bayangan, pantulan membentuk dunia visual kita, dan kita lebih sering tidak berpikir panjang mengenai itu. Zaman dulu para pengembara nomad di gurun pasir sudah mengenal suatu effek yang menarik. Karena sinar cahaya di gurun pasir begitu tajam maka ia terpantul menembus lubang-lubang kemah mereka yang cenderung hitam. Para nomaden melihat effek ‘camera obscura’ di dinding kemah yang berlawanan dengan lubang-lubang itu: gambar persis keadaan di luar, meskipun terbalik.

Setelah effek ini diperkenalkan oleh ilmuwan Arab ke dunia Barat, tidak sedikit pelukis Barat yang memanfaatkan effek ini dengan membuat “camera obscura” (kamar gelap) dengan lubang kecil di satu sisi. Kemudian ada perkembangan lagi, pembentukan lensa yang bisa dipasang ke camera obscura. Lensa pun bukan hal yang baru: peninggalan Assyria 3000 tahun lalu termasuk lensa Nimrud, orang Mesir jaman dulu menggunakan lensa pembesar, pada abad ke-10 ilmuwan Arab Ibn Sahl berhasil mengkalkulasi bentuk lensa effektif, dan seterusnya.

Pada abad ke-19 ada yang mendapat ide untuk menggunakan bahan yang peka cahaya untuk ‘merekam’ effek itu secara langsung. Berbagai eskperimen oleh orang-orang seperti Niepce akhirnya berhasil, maka terjadilah lompatan kuantum: photo-graphy yang sesungguhnya. Setelah satu-dua abad lagi, maka yang kita kenal sekarang adalah alat-alat foto super canggih yang rekamannya langsung ditransfer ke komputer. Namun pada dasarnya prinsip camera obscura tetap menjadi inti dari photography – melukis dengan cahaya.

Kita sekarang lebih terpukau dengan kecanggihan alat super canggih ketimbang memahami proses inti photography sendiri. Kadang dalam pendidikan kita justru harus membongkar persepsi yang sudah terbentuk secara tidak jelas. Seandainya kita tidak tahu ‘basic’ suatu ilmu ataupun suatu kesenian, miskinlah pengetahuan kita. Bahkan persepsi bahwa seni dan ilmu adalah sesuatu yang mutlak terpisah hanyalah bukti keterbatasan kita – sebenarnya ilmu memerlukan kreativitas, dan kesenian memerlukan ilmu pula. Illustrasi prinsip ini mudah kita temukan dalam bidang photography.

Pendidikan berfungsi bukan untuk mencetak ‘mesin berkaki dua’ tapi untuk membuka mata, untuk membuka hati. Tanpa pendidikan awal yang kreatif yang memberi kesempatan pada anak untuk terlibat langsung dalam karya kreatif dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmiah (ataupun proyek-proyek ilmiah yang kreatif), betapa sederhana pun, maka pendidikan selanjutnya pun pincang dan berisiko tinggi hanya akan menjadi rutinitas yang sekedar mencetak manusia yang falsafah hidupnya tidak lebih dari kepasrahan “mulo keto” (kurang lebih: ‘dari dulu memang begitu kok’).

Kenyataannya pendidikan awal yang kreatif tidak harus memerlukan dana besar-besaran, fasilitas mentereng dan sebagainya. Yang diperlukan adalah kreatifitas dan visi pembimbing. Program KLJ di Sanggar Anak Tangguh ini adalah program yang secara nilai materinya sederhana – dimana orang lain akan belajar motret dengan kamera mutakhir, mereka bercerita dengan kaleng bekas – tetapi secara edukatif sangat signifikan. Anak-anak yang terlibat dalam program mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi dunia sehari-hari mereka dengan mata yang baru: membongkar persepsi ‘mulo keto’ baik tentang lingkungan mereka maupun tentang fotografi, lalu asyik mendapatkan suatu pemahaman yang lebih dalam. Kita tidak perlu mengukur keberhasilan mereka dari kecanggihan karya akhir, melainkan dari proses yang telah mereka lampaui. Proses yang mencerahkan sekaligus membahagiakan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: