Posted by: anaktangguh | August 4, 2011

Salam Lima Jari dari Kang Ray

17 Agustus 2011 merupakan hari jadi Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI) yang ke sembilan. KLJI merupakan komunitas pengguna kamera rakitan Pinhole Camera atau yang saya sebut Kamera Lubang Jarum (KLJ) terbuat dari kaleng atau dus kedap cahaya yang lensanya terdiri dari alumunium foil dilubangi sebatang jarum. Dalam bilangan usia yang dianggap keramat ini KLJI terdeteksi hadir di 30 kota Indonesia. Sistem workshop mirip multilevel yang diterapkan cukup berhasil memperluas jaringan KLJI, terlebih dua tahun belakangan ini KLJ lebih meng-Indonesia dengan hadirnya jejaring sosial seperti facebook dan twitter.

KLJ sesungguhnya lahir dari keprihatinan saya sebagai seorang fotografer yang sejak tahun 95an sudah menggunakan kamera dan kamar gelap digital karena Fotografer Profesional yang bergerak di bidang fotografi komersial harus ikut pasar, sehingga dalam bisnis fotografi eksistensi fotografer secara tidak langsung dinilai dari kecanggihan alat yang digunakannya. Bagi dunia bisnis sepertinya syarat tersebut wajar adanya tapi bagi pendidikan justru saya melihat keganjilan yang cukup mengganggu. Efek kemudahan dan memotong proses yang dijanjikan teknologi digital kurang pas jika harus diterapkan di dunia pendidikan Indonesia. Maka dicarilah alat yang pas untuk mengimbangi kekhawatiran tersebut hingga eksperimen sampai pada pinhole camera.

Tahun 1997 setelah berhasil memotret pagar rumah menggunakan kamera kaleng susu 800 gram dengan negatif kertas foto Chen Fu, eksperimen terus berlanjut hingga digelar workshop perdana tahun 2001 di lokasi pembuangan sampah Bantar Gebang didukung dan disponsori oleh Galeri i-see dan Kedutaan Belanda. Dibantu Jasmani dan Budi Rahardjo, Akhir September 2001 akhirnya berhasil menerbitkan buku “MEMOTRET dengan KAMERA LUBANG JARUM” terbitan Puspaswara. Pinhole camera saya sebut Kamera Lubang Jarum (KLJ) karena konsep dasar inovasinya berbeda. Saya tidak terlalu mempermasalahkan “teknik”, tapi mencoba menularkan “rasa yang mendalam” dengan menggunakan kata kunci khas Indonesia: “secukupnya”. Selanjutnya, digelarlah workshop tour “gerilya” di Jawa, Bali, hingga Makassar, hingga pada 17 Agustus 2002 diproklamirkanlah KLJI sebagai komunitas para pemain KLJ Indonesia. Bersamaan dengan itu munculah KLJI Jogja dibawah asuhan Edial Rusli, KLJI Malang dibawah asuhan Decky, KLJI Makassar dibawah asuhan Akbar, dan KLJI Bandung dibawah asuhan Deni Sugandi, KLJI Bali dibawah asuhan Ayip Bali dan kini kepengurusan KLJI Bali sudah beregenerasi menjadi Komunitas Semut Ireng.

Sebagai sebuah filosofi KLJI sebenarnya tidak mempersoalkan masalah “kamera”, tapi makna “lubang jarum” lah yang digaris bawahi. Karena lubang jarum bisa berarti kondisi dimana saat sulit datang bertamu dan pada saat seperti itu kita harus mampu meloloskan diri. Pantas jika Leonardo Da Vinci menyatakan: “Siapa yang akan percaya dari sebuah lubang kecil, kita dapat melihat alam semesta“, karena terbukti KLJ mengajak kita untuk berada dalam suatu ruang yang cukup luas untuk olah pikir, olah rasa dan bahkan olah fisik. Tetapi ruang itu harus kita penuhi dengan aksi-aksi nyata. Sesungguhnyalah KLJ menawarkan pemanjaan idealisme yang luarbiasa, menawarkan seni proses yang sangat melelahkan, tapi juga KLJ bisa sangat mengasyikkan.

Mungkin hal itulah yang menggelitik sehingga KLJ bagaikan virus. Sangat pantas jika KLJ di Indonesia digunakan sebagai kendaraan untuk masalah “pendidikan” dan “seni”. Terbukti saat mengikuti “Gigir Manuk Multicultural Art Camp” bulan september 2002 di Bali. KLJ di terima para seniman Bali dengan tangan terbuka. Malah kami sempat berkolaborasi bersama seniman lainnya seperti seniman lukis, tekstil dan bahkan teater, hingga akhirnya pada tahun 2003 KLJ sah menjadi mata pelajaran fotografi dasar di Media Rekam ISI Jogja.

Pada buku ke-dua edisi Spesial Chip Foto Video tahun 2008 bertajuk “RITUAL FOTOGRAFI”, saya tekankan bahwa fotografer harus melek digital tapi tetap menggarisbawahi pentingnya ber-KLJ. Bahkan pada peluncurannya digelar workshop KLJ tingkat lanjut yang selalu dicitakan sejak berdirinya KLJI, mencetak foto dengan teknik cetak penemu fotografi, William Henry Fox Talbot, abad 19, Saltprint. Dengan misi melahirkan kreator dan Instruktur yang berkwalitas, juga jika suatu masa bahan KLJ seperti kertas foto, developer, fixer, tidak lagi diproduksi akibat pasar yang berubah menjadi full digital, popularitas KLJ tidak akan lenyap bahkan seperti lahir kembali. Seperti sejarah lahirnya kamera beberapa abad lalu serta bisa mencuri kembali waktu 100 tahun proses penemuan yang “hilang” di dunia fotografi Indonesia.

Tentu sangat ekslusif! Karena hanya orang2 tertentu saja yang mampu membuat bahan KLJ dengan tangan mereka sendiri (handmade). Bagi Indonesia yang kaya akan bahan baku dan orang-orang kreatif, peristiwa seperti itu bukan sebuah khayalan. Membangkitkan kembali proses salt print, albumen print, cyanotype dan banyak lagi, sepertinya bukan masalah besar. Terbukti sarjana-sarjana KLJ telah lahir. Dan keterbatasan alat dan bahan yang selama ini menghantui, berubah menjadi kelebihan bahkan pada akhirnya malah menjadi khas daerah. Sebagai misal, karena di Jogja kaleng rokok mudah didapat lahirlah KLJ kaleng rokok, bahkan ditemukan pula KLJ kaleng yang bisa menghasilkan distorsi yang luarbiasa dan ini lahir dan menjadi khas KLJ Jogja. Tapi karena di Malang kaleng susah didapat, maka lahirlah KLJ pralon bahkan lahir pula seorang ahli kamera KLJ kotak tripleks. Dan di jakarta lahir kamera KLJ “pocket” dalam arti sebenarnya, bisa dimasukan ke dalam saku. Dan pada awal 2010 KLJI Bandung bangkit dengan inovasi kamera rakitan dari karton.

Kinilah saatnya untuk menghargai sejarah sebagai langkah menuju masa datang. Atas pertimbangan itu pula jika KLJI memberikan penghargaan pada tahun 2007 kepada tokoh Fotografi Indonesia, Don Hasman yang masih aktif memotret dan tahun 2009 kepada kang Dayat Ratman tokoh fotografi hitam putih dari Bandung yang membantu lahirnya KLJ.

Motto KLJI saat ini adalah “MEMBUAT BUKAN MEMBELI”. Dan jika efek KLJ disebutkan tidak akrab lingkungan, justru malah sebaliknya. KLJI dapat menyisipkan pesan dan memperkenalkan cara menangani limbah yang ditimbulkan dalam proses fotografi analog dengan benar bahkan KLJ mengajarkan kita menata limbah dan puing dunia menjadi lebih berarti. KLJ mengingatkan kita akan dunia materi yang fana sekaligus menjadi alat untuk pendidikan jiwa, penggemblengan rasa, dan eksplorasi kreativitas bagi para kreator fotografi Indonesia. Hingga sampai pada puncak yang dicapai KLJI pada tanggal 7 Desember 2010 atas pengakuan Newseum Indonesia yang memberikan “Anugerah Tirto Adhi Soerjo” kepada Detik.com dan kepada Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI) untuk kategori communiNATION dengan dasar:

KLJI memanifestasikan suatu diktum bahwa proses alam dan kenyataan harus diikuti oleh sebuah alkimia dengan menggunakan hukum jarum sebagai proses. Apalagi jika itu dilakukan secara kolektif dan sadar sehingga menjadi sebuah kesaksian jurnalistik di tengah deru percepatan yang dielukan. Lantas jurnalistik tak semata hasil, tapi bagaimana hal itu dicapai dengan sebuah proses alkimia.

Hingga saat ini, Komunitas Lubang Jarum Indonesia sudah 4 kali mengikuti Pameran Pekan Kreatif Indonesia di Jakarta, Surabaya, dan Bali yang akhirnya ditawari DEPERDAG untuk presentasi masuk sebagai calon (Usaha Kecil Mandiri) UKM. Hal seperti inilah yang membuat kami tetap yakin bahwa KLJI ada di jalan yang benar dan akan terus berkembang, karena meski KLJ bukan alat yang sempurna tapi KLJ bisa dijadikan kendaraan untuk menjadi sempurna.

Salam limajari……

Jakarta, 1 Agustus 2011

RAY BACHTIAR DRADJAT

PENGGAGAS KOMUNITAS LUBANG JARUM INDONESIA

KLJI: Jl. Pariaman No. 11, Pasar Rumput, Manggarai, jakarta Selatan 12970.

E-mail  : kljindonesia@yahoo.com ; Phone  :  (62-21) 8303688; 0813 17844969


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: