Posted by: anaktangguh | April 19, 2012

Pameran Foto, Fasilitas Umum di Mata Anak-anak.

Tuol Sleng (Genoside Museum) – Phnom Penh, Cambodia.

Foto-foto tanpa nama, tatapan kosong sebelum binasa. Anak-anak tanpa dosa. Tiada tahu timah baja, tali gantungan, kelewang dan bajak perunggu di ujung lorong sekolah Tuol Sleng menunggu untuk menghabisi sejarah ringkas mereka. Anak-anak yang tiada pernah tahu arti idiologi atau politik yang membenamkan mereka dalam ladang kematian. Foto-foto bisu anak-anak. Hitam, putih dan kelabu kematian. Tiada warna pelangi kehidupan. Foto-foto anak-anak diam membungkam sepi di sel-sel bekas kelas di mana mereka ceria belajar tentang harapan. Foto-foto yang membenamkan sunyi, di antara kepedihan dan kengerian setiap sudut bangunan Tuol Sleng.

Terbentang dari Kamboja ke Bali, kutipan di atas saya ambil dari catatan perjalanan fotografi saya ke Indochina untuk mengawali kuratorial Pameran Fotografi anak-anak yang tergabung dalam Sanggar Anak Tangguh di Bali. Layaknya, sebuah kuratorial biasanya membahas khusus apa yang hendak disodorkan oleh pencipta karya (lukis, fotografi atau segala bentuk karya seni) tanpa menyeret-nyeret pernik-pernik lain ke dalam ranah kutatorial tersebut. Namun, karena saya sedang berada di sebuah letak geografis yang cukup jauh, di Phnom Penh, Kamboja, mau tidak mau keterpaparan saya terhadap foto-foto anak-anak (dari usia enam tahunan sampai belasan tahun) yang dipenjara di Tuol Sleng, di Phnom Penh pada era 1975 -1980an tersebut amat mempengaruhi kacamata analisis saya terhadap foto-foto anak-anak di Sanggar Anak tangguh.   Namun, setelah beberapa saat merenenungi gagasan kuratorial yang disodorkan ke saya tersebut oleh panitia– saya melihat sebuah benang merah berupa Sebuah refleksi tentang peran anak-anak dalam dunia fotografi.

Dalam ranah fotografi – potret anak-anak yang diambil oleh fotografer penjara Tuol Sleng[1] sebelum mereka dibunuh – menyiratkan sebuah praktek fotografi di mana anak-anak menjadi obyek fotografi. Praktek demikian memang dapat ditemukan di mana saja dalam era fotografi di berbagai jaman. Fotografipun akhirnya bisa menjadi representasi peradaban, dan dalam konteks perang Kamboja (sebagaimana perang lainnya) peradaban yang tercipta pada masa Pol Pot merupakan peradaban yang dinihilisasi. Pol Pot berupaya menciptakan peradaban baru dengan cara membantai semua yang dianggapnya musuh. Foto-foto anak-anak, yang diambil menjelang mereka dibunuh dengan peralatan manual (kelewang, pisau, bajak, dst), untuk menghemat peluru senapan, merupakan arketip yang bisa menceritakan sebuah perjalanan kemanusiaan. Anak-anak, yang merepresentasikan sebuah generasi ke depan, merupakan aktor-aktor utama dalam perjalanan kemanusiaan tersebut. Dengan demikian, sebagai aktor utama dalam sebuah perjalanan kemanusiaan yang membentuk peradaban, anak-anak tersebut menjadi para pemegang dan pemberi harapan. Untuk menciptakan peradaban baru, Pol Pot dengan pasukan Khmer Merahnya, berupaya menciptakan year zero, yaitu zaman dimulainya masyarakat proleterat baru yang murni terbebas dari anasir yang tak diinginkan. Year zero mengisyartkan sebuah upaya untuk membuat setiap insan di bawah pemerintahan Pol Pot mendukung ideologi komunis. Dengan demikian, semua anggota masyarakat yang tidak sefaham dengannya akan berakhir hidupnya di year zero tersebut. Foto-foto di Tuesleng melambangkan sebuah upaya penciptaan sebuah masyarakat sempurna utopis yang penuh dengan penderitaan dan kematian. Semuanya dimulai dengan anak-anak.

Upaya Sanggar Anak Tangguh, dalam ranah fotografi melalui pameran fotografi ini amatlah mulia. Paling tidak, dalam perkembangan dunia fotografi yang mengalami percepatan mencengangkan dengan meluncurnya produk-produk fotogarfi digital,  ada beberapa hal yang bisa dicatat dalam beberapa konteks – baik segi fotografinya sendiri (teknik, estetik maupun dalam konteks kemanusiaan dan peradaban yang terrepresentasi lewat foto anak-anak yang tergabung dalam Kelompok Fotografi Sanggar Anak Tangguh).

Pertama, mari kita lihat gagasan untuk memberikan pelatihan fotografi kepada anak-anak yang datang dari keluarga-keluarga kelas bawah ke menengah, sebagai sebuah upaya untuk menciptakan peran baru kepada anak-anak dalam dunia fotografi sebagai subyek fotografi. Sebagai pelaku langsung dalam proses fotografi, anak-anak ini mengalami sebuah pembebasan kreatifitas tanpa harus dikungkung beban-beban ideologis. Sebagai pelaku langsung mereka bahkan membebaskan diri untuk menemukan jati diri mereka – yakni anak-anak, yang memiliki dunianya sendiri – dunia penuh pelangi, dunia penuh mimpi. Anak-anak di Tuol Sleng harus mengakhiri hidup mereka dihadapan kamera.[2]  Anak-anak di Sanggar Anak Tangguh memulai hidup kreatif mereka juga dengan kamera dan dengan kamera pula mereka diharapkan untuk membentuk masa depannya sendiri. Dengan demikian, tidak seperti anak-anak lainnya yang masih terkungkung dalam euphoria kamera digital yang kini bisa diakses dengan begitu murahnya, anak-anak di Sanggar Anak Tangguh memahami fungsi fotografi bukan sekedar sebagai pelampiasan ekses narsisme yang materialistis. Sekali lagi, di sini perlu ditegaskan bahwa anak-anak bisa menjadi subyek (pelaku atau aktor), fotografi dalam konteks yang amat luas, dan bukannya sebagai obyek fotografi – baik dalam konteks ideologis politis maupun dalam sudut komersial (eksploitasi komersial lewat iklan, dsb.).

Gender empowerment (pemberdayaan jantina) mungkin menjadi kredo yang tepat bagi Sanggar Anak Tangguh. Dengan mengkhususkan pada anak-anak perempuan, sanggar ini menjadi bagian dari upaya besar untuk memberikan kepercayaan diri  dan keterampilan fotografi, yang selama amat didominasi oleh pelaku fotografi laki-laki. Dengan kepercayaan diri serta keterampilan yang biasanya didominasi oleh laki-laki, para gadis fotografer cilik  ini berlatih untuk merambah dunia fotografi yang seharusnya  nir-gender (netral) dan untuk mendapatkan akses ke dunia lain yang bisa diwakili atau dilewati dengan fotografi. Dengan demikian, benih-benih kreatifitas yang diharapkan menjadi sebuah keterampilan, dan pada akhirnya membentuk expertise (keahlian), bisa melahirkan fotografer-fotografer kondang sekelas Annie Leibovitz, Sandy Skoglund, Joyce Tenneson, Barbara Rosenthal, Mary Ellen Mark dan Masumi Hayashi. Fotografer dunia di atas bisa dikatakan telah meruntuhkan sekat-sekat pamali (konvensi) yang tak terucap bahwa dunia fotografi  adalah hanya milik fotogtafer laki-laki.

Salah satu hal amat krusial lain dalam fotografi oleh anak-anak perempuan ini adalah bahwa banyak sekat-sekat tabu yang dibangun oleh tradisi dan kebudayaan, terutama di mana para perempuan diposisikan di sudut yang hanya bisa diungkapkan oleh laki-laki, ternyata hanyalah hal yang semu. Walaupun, dunia kreatif merupakan dunia yang nir-gender, anak-anak perempuan memiliki intuisi yang berbeda dengan intuisi laki-laki. Anak-anak perempuan Sanggar Anak Tangguh, melalui fotografinya, bisa menciptakan respon-respon visual atas tradisi dan budaya serta kebiasaan di lingkungan mereka dengan kacamata serta intuisi keperempuanan mereka. Seorang Shirin Neshat, fotografer kondang kelahiran Iran yang berimigrasi ke Inggris, menggunakan karya-karya fotografi monumentalnya untuk mencoba menciptakan respon visual fotografis terhadap tradisi dan kekuasaan yang represif terhadap perempuan di negara tersebut.

Mengamati karya anak-anak di Sanggar Anak Tangguh meneguhkan kembali peranan fotografi dalam dunia visual sebagai sarana penyampaian fakta. Dalam hal fotografi anak-anak Sanggar Anak Tangguh, bibit fotografi sebagai cikal bakal jurnalisme terungkap jelas dalam karya-karya mereka. Potret diri dalam berbagai posisi sebagai ekspresi narsisme sebagaimana dalam foto-foto anak menjelang usia reaja mereka, sama sekali tidak tampil. Berbekal kamera lomo serta kamera manual lainnya, anak-anak mencoba menyampaikan pengamatan mereka terhadap tema yang disuguhkan oleh Sanggar Anak Tangguh – Fasilitas Umum di Mata Anak-anak.

Dari sudut tema, terlihat jelas anak-anak telah mampu untuk menginterpretasikan tema menembus sekedar fasilitas umum yang merujuk pada bangunan-bangunan, atau tempat-tempat di mana publik melakukan aktivitas mereka,  dsb. Beberapa karya memang mengamati persoalan aktivitas saja – yaitu merekam fakta tanpa bumbu interpretasi atau menyodorkan sebuah gagasan. Gambar anak kucing yang mencoba menaiki dipan bambu, bebantenan dan dupa dengan asapnya yang terekam dengan apik dalam warna yang eksotik. Guratan atau kerut wajah seorang ibu tua beruban yang menghadirkan komposisi yang layak fotografis. Namun demikian, dari berbagai foto yang dipaparkan di sini, beberapa juga mencermati kehidupan dan aktivitas ekonomi di pasar, kegiatan keberagamaan di pura-pura, bahkan ada pula yang lebih menyoroti ekses-ekses kegiatan yang terjadi dalam fasilitas umum, misalnya persoalan sampah dan limbah. Bahkan, sebagai tambahan dari alam kehidupan yang terjadi di fasilitas umum, bebarapa juga menampilkan kuburan sebagai gerbang akhir dari alam kehidupan ini. Dalam konteks penjabaran tema inilah, foto-foto anak Sanggar Anak Tangguh amat menonjol dalam mengungkapkan gagasan yang hendak dibangunnya. Beberapa foto mampu mengisyaratkan kekuatan sensitifitas anak-anak terhadap problema sosial dan lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat umum.

Dalam ranah teknik dan estetika – gambar anak-anak di Sanggar Anak Tangguh patut mendapat apresiasi yang membanggakan. Walaupun toh kegiatan fotografi mereka tersebut mungkin dilaksanakan dalam  konteks exploring possibilities with cameras through fun and joy, secara teknik terlihat foto-foto tersebut memenuhi kaidah-kaidah fotografi yang umum. Depth of field, composition, colors and sharpness dsb. yang sering menjadi tolok ukur bagus atau tidaknya sebuah foto, muncul dengan kentara dalam foto-foto tersebut.

Sebagaimana yang digagas oleh Sanggar Anak Tangguh,  nampaknya, semangat  pameran ini bisa menggaungkan pula percikan perenungan pahlawan Perempuan Indonesia, Kartini yang tulisannya kepada teman korespondennya di Belanda, Ny. Abendanon terangkum dalam Habis Gelap Terbitlah Terang. Melalui kumpulan tulisannya Kartini mempertanyakan, mempersoalkan  dan melawan ketimpangan jantina yang akut dialami oleh kaum perempuan pada jamannya. Kartini mengawali pendidikan alternatif untuk anak-anak pribumi di rumahnya. Ia menyulut pelita pendidikan untuk anak-anak perempuan yang menjadi cikal bakal kesataraan dalam konteks moderen.

Kini, lebih dari seabad, melalui fotografi, anak-anak di Sanggar Anak Tangguh, berupaya merebut kembali atau menyambung hak-hak mereka terhadap akses ke pendidikan dan kemanusiaan yang setara. Tulisan Kartini semoga menginspirasi dan bermetamorfosis menjadi ungkapan-ungkapan visual yang diciptakan oleh anak-anak perempuan di Sanggar Anak Tangguh untuk menyuarakan gagasan, ide bahkan jati diri mereka sebagai perempuan.

Tuol Sleng sebagai sebuah sekolahan merupakan sebuah fasilitas umum yang seharusnya menjadi muara bagi anak-anak Kamboja untuk mereguk pendidikan berubah menjadi neraka bisu. Sanggar Anak Tangguh sebagai fasilitas umum, dengan segala kesederhanaan nan kebersahajaan-nya menjanjikan seteguk harapan segar bagi anak-anak yang haus akan pendidikan yang setara. Semoga dengan fotografi anak-anak ini bisa menggunakan mata mereka untuk melihat dunia sebagaimana apa adanya, melalui lensa mereka bisa memberikan makna pada dunia ini, dan dengan pikiran dan hati, semoga mereka bisa menjadikannya  tempat yang layak huni yang penuh damai

M. Bundhowi

Kurator/edukator/ seniman


[1] Tuol Sleng adalah  bekas sebuah sekolahan yang dijadikan penjara bagi orang-orang Kamboja yang dianggap sebagai penentang rezim komunis Pol Pot (1975). Tempat ini sekarang menjadi Museum Genosida. Dalam Bahasa Indonesia Tuol Sleng artinya Bukit Pepohonan Beracun.

[2] Bahkan setelah mereka dieksekusi, fotografer penjara Tuol Sleng mengambil foto-foto jasad mereka yang terbujur kaku dalam keadaan yang amat mengenaskan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: