Posted by: anaktangguh | October 30, 2013

Kurasi atau pembacaan Karya Anak-anak pada Pameran Anak dan Imajinasinya oleh Mas Ruscita, Sand Fa Gallry-Sanur, Bali.

Meithila Bandem, Family, 5 piece x 30 x 40 cm, Acrylic on Canvas, 2013 2013

Meithila Bandem, Family, 5 piece x 30 x 40 cm, Acrylic on Canvas, 2013

Anak-anak yang Mencuri-curi Perhatian

 

Melihat, memperhatikan dan menyimak lukisan karya anak-anak membuat kita tersenyum-senyum sendiri. Imajinasi anak-anak yang yang digabungkannya dengan arahan-arahan orang tua,  maupun pembimbing melahirkan sesuatu yang mengundang senyum di kulum. Karena seberapapun,  orang dewasa mengajarkan, mengarahkan anak-anak,  tetap akan muncul  jiwa kanak-kanak pelukis, yang seperti mencuri-curi  waktu dan perhatian untuk diperhatikan. 

Lukisan memang menjadi media yang efektif dipakai oleh anak-anak Bali dalam mengekpresikan dirinya. Tetapi dalam mengekresikan diri ini,  pengetahuan terkait teknik dalam melukis tentu tak bisa diabaikan, tetapi  kadang  teknik dan pelajaran dari orang dewasa lolos dari konsentrasi sang anak. Saat-saat lolos inilah, kelucuan dan kekanak-kanakan si anak akan terlihat menonjol. 

Seperti lukisan “Barong” dan “Lingkungan yang Indah” yang dibuat oleh Candra . Pada lukisan “Barong” telapak kaki dan gigi-gigi Barong terlihat menonjol  dan lugu, mewakili  keluguan anak-anak. Begitu juga dalam lukisan “Lingkungan yang Indah” guratan-guratan pada pohon, bisa menjadi  satu sentuhan kecil yang mengundang perhatian.  Begitu juga pada lukisan orang sembahyang di Pura, gambar kober, lelontek dan payung, yang walaupun menjadi  kebutruhan gambar bagi orang dewasa, tetapi dalam hal bentuk dan warna, Candra seakan tak mau melepaskan masa kanak-kanaknya.  Karya-karya Candra menunjukan sebuah kesantunan Timur, yang mengikuti saran, tetapi tetap mencari celah untuk menjadi diri sendiri.  

Walaupun melukis hal yang sama, yaitu “Barong”  lukisan karya Damar  terlihat menjol dan sangat kental jiwa kekanak-kanakannya. Jiwa pelukis terekspresi dengan bebas dan lugas, terlihat dari bentuk, komposisi dan pilihan warna yang dipakai. Lukisan-lukisan karya Damar,  seperti mengajak penikmat berkumonikasi dalam diam, kemudian ikut hanyut, mengembara bebas  dalam dunia kanak-kanaknya.  Dari lukisannya, Damar terlihat tak bisa diam sejenak, bergerak terus mengikuti jiwa kreatifnya yang tak terkendali. Semoga dalam perkembangan usianya, dia tak berhadapan dengan benturan-benturan yang mengekang kreatifitasnya.  

Lukisan yang berbeda ditunjukan dalam lukisan “Mulut Yang Mengaga” karya  Gus Bama. Walaupun judulnya adalah judul orang dewasa, tetapi goresan, ide, pilihan warna dan bentuk lukisan ini, tak kehilangan kekanak-kanaknya.  Dari lukisannya, Gus Bama, terlihat begitu militan dengan pilihannya. Sebuah kengototan anak-anak yang kalau diarahkan akan melahirkan pribadi yang kuat.

Lukisan hitam-putih karya Matthew, dengan mata dan bibirnya yang menyungging aneh, seakan mewakili keangkuhan pelukis, keangkuhan masa kanak-kanak yang seolah ingin berkata, “aku bisa”. Keangkuhan seorang pahlawan cilik yang kreatif tapi terjaga. Maka tak heran, ketika melukis kepiting Matthew juga begitu yakin dengan pilihan warna orangenya yang berbentuk kotak dengan guratan segi empat yang mirip koper aneh.  

Lukisan karya Ugi yang menggambarkan sepasang suami istri dengan seorang anak perempuan di tengah dengan baju orange, menarik untuk dilihat karena merangsang mata dan menularkan kehangatan. Warna-warna yang dipilih, figur orang-orang dan bagian-bagian dari tubuh yang dibuat seenaknya tanpa ada ketakutan untuk salah, menampakkan rasa percaya diri pelukis. Dan memang seharusnyalah anak tidak dicecoki dengan kata-kata tidak boleh saat melakukan sesuatu, asal tidak membahayakan dirinya dan orang lain. Dan lukisan Ugi, menyiratkan rasa nyamannya sebagai anak dengan jiwa kanak-kanaknya.

Lukisan yang dibuat oleh Meithila menunjukan kegembiraan, kelembutan dan kepercayaan diri yang  kuat. Dalam melukis Meithila sudah tak punya beban apa-apa kecuali melukis hal-hal yang dia sukai. Pilihannya jatuh pada figure-figur manusia.  Lukisan-lukisan karyanya menggambarkan tentang dirinya dan family-nya, dengan karakter yang kuat. Semua figure digambar dengan serius, kecuali dirinya sendiri. Dimana tokoh laki-laki (kakek-nya) digambarkan sebagai sosok yang gagah dengan mata yang hitam besar dan tokoh perempuan adalah sosok nenek nya, yang lebut, manis dan keibuan, dengan hiasan bunga dan sanggul. Tapi walaupun berbeda semua karakter yang tergambar tampak bahagia yang ditunjukan dengan kedua pipinya yang merah. Lukisan potret diri yang dilatar belakangi dengan suasana kota yang meriah, yang diberi judul City and my joy, menggambarkan karakter pelukisnya yang suka traveling dan menikmati suasana kota yang dikunjungi. Pelukis nampaknya berbahagia dengan kebebasan ekspresinya.

Ekspresi kebahagian sangat jelas terlihat pada lukisan anak perempuan yang dilatar belakangi gedung-gedung tinggi. Gedung-gedung ini dilukis  berwarna-warni,   warna merah muda dan orange terlihat sangat menonjol, ditambah warna biru, hijau  dan sedikit  berwarna coklat. Sosok anak perempuan yang digambarpun terlihat sangat kuat, cerdas, bahagia dan percaya diri dengan mata hitam besar, bibir menganga, rambut berombak panjang dengan kalung hati warna hijau. Dengan memakai baju berwarna merah muda dan ungu, pipinya juga berwarna merah muda, ia melambaikan tangannya, seperti  ingin menyapa dunia kanak-kanaknya yang ceria. 

Lukisan karya Tantri, walaupun memiliki kesukaan yang sama dengan Meithila  yaitu menggambar figure, tetapi  penggambaran orangnya sangat berbeda dengan gambar Meithila, rambut  anak perempuan yang digambar Tantri ini berwarna orange kecoklatan, menguncup, wajahnya juga kalem dan lebih memandang ke dalam diri. Tantri sepertinya agak pemalu dan suka menyembunyikan diri, tetapi semangatnya berekspresi tak mampu  ditahan jiwa pemalunya.  Akhirnya ekspresinya ia curahkan pada baju figurnya yang justru lebih meriah dan sumbringah dari lukisan figurnya sendiri. Figur perempuan kecilnya dia lukis memakai  baju yang berisikan gambar wanita Bali dengan menjunjung banten ke pura, ada gambar pura, gunung, awan, pohon, burung dan laut. Sebuah lukisan dalam lukisan, sebuah ekspresi yang tertanam dalam ekspresi?

Gambar Gung Gek, berbeda dengan sekali dengan gambar Meithila dan Tantri. Jika kedua anak perempuan ini memilih menggambar figur dengan model anak perempuan yang juga potret pelukisnya sendiri, maka Gung Gek, menggambar  goresan warna, yang mewakili perasaannya, keasyikannnya sendiri.  Dari goresan-goresan warnanya yang kuat dan berani, nampaknya Gung Gek nyaman dengan dirinya dan ekspresinya.  Kadang ia mengekspresikan dirinya dengan begitu bebas tanpa batas, tapi kadang-kadang  warna dan goresannya juga tampak sangat lembut dan santun. Dalam karyanya yang memakai warna hitam seperti pancaran sinar dan merah sebagai pusat sinar,  ia dengan tanpa sadar terlihat membingkai kebebasaannya dalam kesantunan.  Dalam usianya yang terbilang belia Gung Gek dengan tanpa sadar rupanya telah memiliki ekspresi yang bebas tapi ada batasnya.

Bakat, kesabaran, ketelatenan dan ketrampilan yang sempurna ditunjukkan oleh lukisan-lukisan tradisional “Gaya Batuan” yang dibuat oleh Ariana. Secara selintas lukisan Ariana mungkin tak bisa dibedakan dengan lukisan tradisional Gaya Batuan yang dibuat oleh orang dewasa. Tema-tema yang dipilih Ariana juga tema-tema yang biasa dilukis oleh orang dewasa. Walaupun terlihat tertib, disiplin, sabar dan terampil, beberapa goresan Ariana masih bisa dijajaki sebagai jejak goresan kanak-kanak. Hal ini bisa kita lihat pada lukisan berjudul “Kite Festival”, “Kumbakarna”, maupun “Lubdaka” ketiga lukisan ini, jejak kanak-kanak Ariana hanya terlihat pada goresan dan penggambaran obyek yang samar-samar, seperti anak dan orang tua yang memanjat pohon pada lukisan “Kite Festival” atau  pemburu yang yang memegang tangan kera pada lukisan “Lubdaka”. Hanya lukisan  “Calon Arang” yang jelas menampakkan jejak masa kanak-kanaknya. Dengan hanya menebalkan sebagian dari obyek lukisannya, Ariana tak dasar menunjukan dirinya sebagai kanak-kanak, yang juga berhak bosan pada satu ide. Sebenarnya justru disinilah ide kreatif Ariama bisa lebih dikembangkan. Disinilah perlunya pembimbing yang bisa memotifasi Ariana untuk menemukan ide-ide kreatifnya. Jika saja, ketekunan, ketrampilan, kesabaran yang sudah dimiliki Ariana, dipakai untuk mengekresikan ide kreatifnya, pasti akan mampu melahirkan karya-karya yang menarik. Hanya diperlukan strategi dari pembimbing, agar bisa merangsang keluarnya ide-ide kreatif si anak. Jika ide kreatifnya sudah muncul, pasti Ariana akan lebih menikmati hari-harinya ketika melukis. Karena saat melukis, dia bisa memiliki dan memeluk erat dunia imajinasinya. 

Kreatif seharusnya menjadi ciri khas anak-anak, dan lukisan seharusnya bisa menjadi salah satu media ekspresi yang menenangkan dan bermanfaat bagi anak-anak. Sayangnya pola pengajaran, yang hanya mengarahkan pada ketrampilan dan hapalan, justru akan menghambat kreatifitas anak-anak untuk meneguk habis masa kanak-kanaknya.  Lukisan-lukisan karya anak-anak yang dipamerkan ini secara tidak langsung memberi gambaran, ketimpangan pendidikan yang diberikan pada anak-anak. Ada anak yang begitu enteng berkreatifitas, ada yang sembunyi-sembunyi, ada yang berkreasi dalam biangkai kesopanan, ada yang begitu liar, dan ada yang sangat tertahan ide-ide kreatifnya. Hal ini tentu akan bisa dijadikan pelajaran untuk menentukan langkah-langkah pembinaan selanjutnya.  Karena ketika anak-anak melukis, bukanlah menjadi pelukis hebat yang menjadi tujuannya, tetapi adalah menjadi seorang anak yang utuh, yang mampu menghadapi dan menikmati setiap peristiwa yang dialami, dan akhirnya akan merangsang daya pikir dan olah rasanya, yang menjadi sumber dari kreatifitas.

Salam, Mas Ruscita

Sastrawati

Gus Bama adalah anak umur 3 tahun, Yang berkolaborasi dengan ayahnya yang merespon karya-karya yang dibuat Gus Bama. kemudian karya

Gus Bama, Bawang, Digital print, 50 Cm x 40 Cm, 2013

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: