Posted by: anaktangguh | October 30, 2013

Pengantar Pameran Gambar dan Lukisan Sanggar Anak Tangguh, oleh Bpk Hardiman.

Ariana, Kite Festival 70 Cm x 40 Cm, Chinese Ink on Canvas, 2013.

Ariana, Kite Festival 70 Cm x 40 Cm, Chinese Ink on Canvas, 2013.

Pengantar Pameran Gambar dan Lukisan Sanggar Anak Tangguh

KECERDASAN ANAK-ANAK

Oleh Hardiman

Tulisan ini adalah sebuah pengantar,  bukan kuratorial. Sebagai sebuah pengantar, tulisan ini diniatkan memberi semacam pintu masuk untuk memahami karya yang dipamerkan dalam perhelatan ini. Sebuah pintu masuk yang tentu saja bukan satu-satunya pintu yang bisa dipilih oleh para apresian pameran ini. Pintu lainnya adalah keluasan tafsir, horizon harapan, dan cara megapresiasi masing-masing apresian (Anda sekalian).

Sebagai pintu masuk, tulisan ini bersandar pada teori seni rupa anak-anak. Tak lain, tujuan ini diharapkan agar penilaian terhadap kaya cipta anak-anak sesuai dengan karakter kesenirupaan anak-anak yang sejalan dengan psikologi perkembangan. Demikian awalan tulisan ini untuk dimaklumi terlebih dahulu.

***

Banyak orang tua yang beranggapan bahwa anak-anak (usia TK, SD, hingga SMP) yang memiliki kegemaran menggambar dinilai sebagi anak berbakat dan masa depannya bisa diharapkan akan menjadi seniman besar. Secara akademik, anggapan ini keliru adanya. Masa kanak-kanak adalah masa keemasan bagi dunia kesenirupaan anak-anak. Terutama anak usia TK dan SD media ekspresi yang paling mudah dicapainya adalah media seni rupa. Itu sebabnya, Oho Garha, seorang ahli pendidikan seni rupa terkemuka di Indonesia, menilai bahwa hampir semua anak-anak bisa dipastikan gemar menggambar. Dan, kegemaran menggambar ini berangsur-angsur menurun sejalan dengan pertumbuhan usianya. Meningkat usia masa remaja, kegemaran menggambar ini semakin lenyap—kecuali pada beberapa anak saja yang memiliki pembawaan. Gantinya, anak-anak yang telah menjadi remaja itu mulai menggemari sastra—berupa bacaan karya sastra, film cerita, lirik lagu, atau  teks-teks verbal lainnya. Hal ini berkenaan dengan pemakaian logika pada anak remaja yang makin meningkat, karenanya gambar anak-anak yang tidak naturalistik (tidak sesuai kenyataan alam) dinilainya sendiri sebagai karya yang gagal.  Sebagai gantinya, mereka memilih teks verbal (sastra) karena lebih mewakili perasaannya dan mudah diterima oleh logika mereka.

Sesunguhnya, anak-anak yang gemar menggambar lebih dekat hubungannya dengan kecerdasan daripada dengan keartisan.  Artinya, bisa dipastikan bahwa anak-anak yang gemar menggambar adalah anak-anak yang telah memperlihatkan kecerdasannya. Penjelasannya begini, dalam aktivitas menggambar itu melibatkan daya ingat dan daya fantasi. Misalnya ketika anak menggambar sesuatu, baik berhadapan langsung ataupun tidak dengan sesuatu itu, maka dibutuhkan daya ingat yang kuat akan bentuk sesuatu itu. Begitu halnya ketika anak itu merangkai sesuatu dengan obyek lain di sekitarnya, maka dibutuhkan daya ingat dan fantasi akan obyek lain yang memiliki hubungan dengan sesuatu itu. Inilah kecerdasan. Karenanya, makin banyak obyek yang digambar oleh anak-anak, makin tampaklah kecerdasannya. Ini tentu hanya berlaku untuk dunia anak-anak usia TK, SD, dan SMP awal.

Anak-anak Sanggar Tangguh ini menjalani proses berkreasi keseni-rupaan yang khas. Mereka berada dalam lingkungn kesenirupaan yang kuat. Beberapa anak ini orang tuanya adalah perupa. Beberapa yang lain bertempat tinggal di komunitas perupa. Lingkungan-lingkungan inilah yang menjadikan anak-anak terstimulus dengan baik dalam proses berkarya seni rupa. Inilah lingkungan kultural yang menguntungkan bagi anak-anak.

Lingkungan kultural inilah yang secara semiotis menjadi bahasa visual komunal atau disebut juga sebagai dialek. Dialek inilah yang diserap oleh anak-anak sebagai bahasa atau cara pengucapan visual. Ada dialek regional yaitu dialek yang dibatasi oleh tempat, misalnya dialek visual Pengosekan. Ada juga dialek tinggi, yaitu dialek yang memiliki standar tertentu dari lingkungan tertentu yang terbatas, misalnya dialek akademik.

Dialek-dialek tersebut diserap oleh anak-anak ini sebagai bagian dari cara pengucapan kesenirupaan. Mereka misalnya memakai cara membuat bentuk, cara menghadirkan warna, bahkan pilihan tema atau pokok bahasan yang bersumber dari dialek setempat juga dialek akasdemik. Tentu saja, pemakaian ini tidaklah dapat dikatakan sebagai menyontek. Ini adalah cara berbahasa kesenirupaan yang bersumber dari lingkungannya (dialek) melalui jalan menghidupkan memori atau daya ingat. Dalam batas tertentu, daya ingat ini sangat pendek jaraknya ketika beberapa anak ini berhadapan langsung dengan obyek yang dilukisnya. Yang menguat kemudian adalah kemampuannya memindahkan obyek tiga dimensi ke ruang dan penghadiran yang dua dimensi. Cara ini bagi beberapa anak sering meminjam cara-cara yang telah dilakukan orang dewasa di sekitarnya—orang tua atau lingkungan terdekatnya. Dalam hal ini, dialek lagi-lagi dipinjam atau dipakai kembali.

Namun demikian anak-anak ini sebagai mana umumnya anak-anak diberbagai belahan bumi memiliki bahasa atau cara ungkap yang khas anak-anak. Dalam hal ini dipengaruhi oleh psikologi perkembangan yang sejalan dengan tingkat usia mereka. Viktor Lowenfeld dan W.Lambert Brittain, teoritikus pendidikan seni rupa dalam bukunya yang telah menjadi klasik “Creative and Mental Growth” membagi perkembangan seni rupa anak-anak berdasarkan tingkat usia menjadi enam periode. Antara lain periode bagan (usia 4-7 tahun ), periode skematik (usia 7-9 tahun), periude realis (usia 9-12 tahun), dan periode naturalisme semu (usia 12-14 tahun). Anak –anak Sanggar Tangguh ini berada dalam periode-periode tersebut.

Karya mereka antara lain di tandai oleh ciri-ciri visual yang khas anak-anak, yakni  pilihan warana berdasarkan kesukaan. Warna yang di pakai oleh mereka bukanlah warna yang mewakili realiatas alamnya, tetapi mewakili perasaannya. Perspektif yang di pilih anak-anak ini adalah perspektif tumpukan, dan perspektif rebahan. Perspektif-perspektif ini adalah cara penaklukan ruang khas anak-anak. Dan, ini terjadi di berbagai budaya. Dengan kata lain, perspektif-perspektif ini bersifat universal. Anak-anak Bali seperti juga anak-anak di kawasan Asia, Eropa, Amerika, atau kawasan manapun memiliki cara penaklukan ruang (perspektif) yang sama.

Secara kebetulan dalam seni rupa tradisional Bali dikenal juga perspektif tumpukan, yakni penyusunan ruang berdasarkan jauh dekat sekumpulan obyek dengan cara penyusunan obyek terdekat berada di bagian bawah bidang gambar, dan obyek terjauh berada di bagian atas bidang gambar. Perspektif ini sama persis dengan salah satu perspektif yang dimiliki anak-anak. Dengan demikian bagi anak-anak Bali penggunaan perspektif tumpukan ini bersumber dari dua faktor, yakni faktor internal (dunia kesenirupaan anak-anak), dan faktor eksternal (seni rupa tradisional Bali). Dalam hal pemilihan warna anak-anak ini di pengaruhi oleh faktor internal dan eksternal pula. Faktor internal yakni dorongan secara fisikologis terhadap selera warna. Dalam hal ini warna mewakili kesukaannya dan keluasan seleranya. Disisi lain beberapa anak memilih warna berdasarkan faktor eksternal, yakni lingkungan seni rupa tradisional. Karenanya munculah warna  yang cenderung senada atau monokrom.

***

Perkara pemilihan warna dan penaklukan ruang (perspektif) inilah yang menjadi kekhasan sekaligus kelebihan anak-anak Sanggar Tagguh ini.  Kelebihan ini adalah penanda tantang daya serap lingkungan yang dimiliki anak-anak ini. Daya serap ini adalah daya ingat, dengan kata lain sejajar dengan kecerdasan. Dapat disimpulkan bahwa anak-anak Sanggar Tangguh ini adalah anak-anak yang memiliki tingkat kecerdasan cukup tinggi. Perkara apakah mereka kelak akan menjadi seniman. Itu adalah perkara pilihan bagi mereka. Jadi seniman atau tidak, tidaklah dapat diukur dari kegemaran mereka hari ini terhadap dunia cita seni rupa.  Kegemaran menggambar anak-anak ini pada hari-hari ini adalah penanda tentang kecerdasan itu.[]

HARDIMAN

Dosen jurusan pendidikan seni rupa Undiksha singaraja.

Kurator independen dan penulis seni rupa.

Candra, Super Hero60cmx50cm, Acrilic on Canvas, 2013

Candra, Super Hero 60 cm x 50 cm, Acrilic on Canvas, 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: