Posted by: anaktangguh | November 5, 2012

WOMEN IN ACTION

Anak tangguh, Women in action

Sanggar Anak Tangguh, ikut berpartisifasi aktif dalam mendukung gerakan untuk perempuan. Dalam mewujudkan solidaritas tersebut,  Anak-anak Sanggar Anak Tangguh menggagas program “ Women In Action”. Program women in action merupakan pengembangan program gambar yang ada di Sanggar Anak Tangguh. Gambar-gambar yang dihasilkan dari program ini, akan dilelang, hasil penjualan dari lelang tersebut akan disumbangkan untuk organisasi yang konsen dengan perlindungan dan pemberdayaan anak-anak dan perempuan.

Program ini digagas oleh team program gambar Sanggar Anak Tangguh, Adi, Bayak, Kadek Warsa, dalam merespon tawaran untuk ikut serta dalam melakukan lelang karya-karya gambar anak-anak oleh ” Women Crisis Centre Bali”. Dalam pelaksanaan program ini, kita bersyukur  karena salah seorang artis Alumnus dari Charles Sturt University, Wagga Wagga NSW-Australia, Jennifer Anne Ashby, Bersedia untuk membantu dalam membimbing anak-anak  dalam berkarya.

Pada saat awal bertemu dengan Jenny, seorang ahli dalam monotype print (seni Grafis).  Dia mengungkapkan kalau dalam berkarya dia terispirasi dari karya-karya Aslem Keifer. William Kentridge, Christian Bolanski and Antonio Tapies karena karya-karya mereka sangat sarat dengan pesan-pesan sosial politik dan hak asasi manusia. Jenny juga sangat menyukai karya-karya Taring Padi. Pengalaman Jenny dalam mendampingi anak-anak Aborigin di Australia tentu akan menjadi inspirasi berharga dalam pengembangan anak-anak sanggar dalam berkesenian.

Dalam mengimplementasikan program women in action, dipilih tema : Katakan Dengan Bunga. Program ini diikuti oleh anak-anak dari kelas satu SD sampai dengan kelas III SMP. Program ini, dimulai dari anak-anak melakukan survey tentang tanaman yang ada di rumah dan lingkuan di sekitar rumah mereka. Anak-anak juga diminta untuk memilih dan memotret bunga-bunga kesukaan mereka. Disamping memilih bunga–bunga yang ada di lingkungan sekitar rumahnya untuk digambar, anak-anak juga dibebaskan untuk memilih gambar-gambar bunga yang ada di buku-buku koleksi perpustakaan Sanggar Anak Tangguh.

Dari sekitar 40 anak yang aktif dalam program gambar, mereka dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok perempuan dan satu kelompok laki-laki. Dari proses pelaksanaan program women in action ini terlihat perbedaan karakter lukisan anak-anak perempuan dan anak-anak laki-laki.

Beberapa proses awal, mereka dalam berkarya dan karya-karya yang telah dihasilkan dapat diapresiasi pada : Face book pages : GALLERY ANAK TANGGUH.

Salam

Adi

Advertisements
Posted by: anaktangguh | November 5, 2012

Menggunting Dalam Lipatan.

Pada tanggal 21 Oktober 2012, anak-anak di sanggar anak tangguh mendapat kesempatan untuk mengenal budaya Mexico. Pada siang yang cerah tersebut anak-anak diajarkan bagaimana cara membuat hiasan dari kertas. Menurut Yolanda Corona, serang dosen dari Metropolitan Autonomous University Campus Xochimilco. Hiasan dari kertas seperti yang diajarkan ini merupakan salah satu tradisi yang sangat disenagi di Mexico. Setiap ada perayaan baik perayaan kelahiran atau festival maka penduduk disana akan membuat hiasan dari kertas.

Hiasan dari kertas ini dibuat dengan cara melipat kertas tersebut, kemudian dipotong sesuai dengan motif yang dikehendaki, kemudian kertas tersebt dibuka, dan sangat mengejutkan jadilah kertas yang sudah terlubangi. (seperti motif Cut Out).

Yolanda mengetahui tentang kegiatan Anak Tangguh, ketika dia ikut program UWRF 2012, yang kebetulan berbagi cerita tentang Mexico. Setelah mengikuti acara tersebut Yolanda tertarik tentang keberadaan Sanggar Anak Tangguh. Yolanda pun, tertarik berbagai bersama anak-anak sanggar.

Kawan-kawan di Anak Tangguh sangat terkesan dengan cerita Yolanda. Yang di negaranya seorang dosen dapat kesempatan libur atau tidak mengajar selama satu tahun. Dalam mengisi liburanya mereka diwajibkan untuk berlibur dan belajar ke luar negeri. Selama liburan ini pula mereka tetap digaji. Karena Yolanda seorang Dosen maka dia mendapatkan kesempatan untuk berlibur ke luar negeri dan dia tertarik untuk berkunjung ke Indonesia. Seandainya Negara kita punya program seperti ini tenntunya akan banyak para dosen di negeri ini yang bisa berkunjung ke Negara lain dan tentunya oleh-oleh pengetahuan yang mereka peroleh dari luar negeri akan memperkaya wawasan para dosen tersebut dan berimbas pada para mahasiswanya…

Posted by: anaktangguh | August 28, 2012

SIARAN PERS Program Acara Ubud Writers Readers Festival 2012 Diumumkan

http://www.thejakartapost.com/bali-daily/2012-07-09/creativity-opens-new-world-gianyar-children.html

Posted by: anaktangguh | April 19, 2012

Pameran Foto, Fasilitas Umum di Mata Anak-anak.

Tuol Sleng (Genoside Museum) – Phnom Penh, Cambodia.

Foto-foto tanpa nama, tatapan kosong sebelum binasa. Anak-anak tanpa dosa. Tiada tahu timah baja, tali gantungan, kelewang dan bajak perunggu di ujung lorong sekolah Tuol Sleng menunggu untuk menghabisi sejarah ringkas mereka. Anak-anak yang tiada pernah tahu arti idiologi atau politik yang membenamkan mereka dalam ladang kematian. Foto-foto bisu anak-anak. Hitam, putih dan kelabu kematian. Tiada warna pelangi kehidupan. Foto-foto anak-anak diam membungkam sepi di sel-sel bekas kelas di mana mereka ceria belajar tentang harapan. Foto-foto yang membenamkan sunyi, di antara kepedihan dan kengerian setiap sudut bangunan Tuol Sleng.

Terbentang dari Kamboja ke Bali, kutipan di atas saya ambil dari catatan perjalanan fotografi saya ke Indochina untuk mengawali kuratorial Pameran Fotografi anak-anak yang tergabung dalam Sanggar Anak Tangguh di Bali. Layaknya, sebuah kuratorial biasanya membahas khusus apa yang hendak disodorkan oleh pencipta karya (lukis, fotografi atau segala bentuk karya seni) tanpa menyeret-nyeret pernik-pernik lain ke dalam ranah kutatorial tersebut. Namun, karena saya sedang berada di sebuah letak geografis yang cukup jauh, di Phnom Penh, Kamboja, mau tidak mau keterpaparan saya terhadap foto-foto anak-anak (dari usia enam tahunan sampai belasan tahun) yang dipenjara di Tuol Sleng, di Phnom Penh pada era 1975 -1980an tersebut amat mempengaruhi kacamata analisis saya terhadap foto-foto anak-anak di Sanggar Anak tangguh.   Namun, setelah beberapa saat merenenungi gagasan kuratorial yang disodorkan ke saya tersebut oleh panitia– saya melihat sebuah benang merah berupa Sebuah refleksi tentang peran anak-anak dalam dunia fotografi.

Dalam ranah fotografi – potret anak-anak yang diambil oleh fotografer penjara Tuol Sleng[1] sebelum mereka dibunuh – menyiratkan sebuah praktek fotografi di mana anak-anak menjadi obyek fotografi. Praktek demikian memang dapat ditemukan di mana saja dalam era fotografi di berbagai jaman. Fotografipun akhirnya bisa menjadi representasi peradaban, dan dalam konteks perang Kamboja (sebagaimana perang lainnya) peradaban yang tercipta pada masa Pol Pot merupakan peradaban yang dinihilisasi. Pol Pot berupaya menciptakan peradaban baru dengan cara membantai semua yang dianggapnya musuh. Foto-foto anak-anak, yang diambil menjelang mereka dibunuh dengan peralatan manual (kelewang, pisau, bajak, dst), untuk menghemat peluru senapan, merupakan arketip yang bisa menceritakan sebuah perjalanan kemanusiaan. Anak-anak, yang merepresentasikan sebuah generasi ke depan, merupakan aktor-aktor utama dalam perjalanan kemanusiaan tersebut. Dengan demikian, sebagai aktor utama dalam sebuah perjalanan kemanusiaan yang membentuk peradaban, anak-anak tersebut menjadi para pemegang dan pemberi harapan. Untuk menciptakan peradaban baru, Pol Pot dengan pasukan Khmer Merahnya, berupaya menciptakan year zero, yaitu zaman dimulainya masyarakat proleterat baru yang murni terbebas dari anasir yang tak diinginkan. Year zero mengisyartkan sebuah upaya untuk membuat setiap insan di bawah pemerintahan Pol Pot mendukung ideologi komunis. Dengan demikian, semua anggota masyarakat yang tidak sefaham dengannya akan berakhir hidupnya di year zero tersebut. Foto-foto di Tuesleng melambangkan sebuah upaya penciptaan sebuah masyarakat sempurna utopis yang penuh dengan penderitaan dan kematian. Semuanya dimulai dengan anak-anak.

Upaya Sanggar Anak Tangguh, dalam ranah fotografi melalui pameran fotografi ini amatlah mulia. Paling tidak, dalam perkembangan dunia fotografi yang mengalami percepatan mencengangkan dengan meluncurnya produk-produk fotogarfi digital,  ada beberapa hal yang bisa dicatat dalam beberapa konteks – baik segi fotografinya sendiri (teknik, estetik maupun dalam konteks kemanusiaan dan peradaban yang terrepresentasi lewat foto anak-anak yang tergabung dalam Kelompok Fotografi Sanggar Anak Tangguh).

Pertama, mari kita lihat gagasan untuk memberikan pelatihan fotografi kepada anak-anak yang datang dari keluarga-keluarga kelas bawah ke menengah, sebagai sebuah upaya untuk menciptakan peran baru kepada anak-anak dalam dunia fotografi sebagai subyek fotografi. Sebagai pelaku langsung dalam proses fotografi, anak-anak ini mengalami sebuah pembebasan kreatifitas tanpa harus dikungkung beban-beban ideologis. Sebagai pelaku langsung mereka bahkan membebaskan diri untuk menemukan jati diri mereka – yakni anak-anak, yang memiliki dunianya sendiri – dunia penuh pelangi, dunia penuh mimpi. Anak-anak di Tuol Sleng harus mengakhiri hidup mereka dihadapan kamera.[2]  Anak-anak di Sanggar Anak Tangguh memulai hidup kreatif mereka juga dengan kamera dan dengan kamera pula mereka diharapkan untuk membentuk masa depannya sendiri. Dengan demikian, tidak seperti anak-anak lainnya yang masih terkungkung dalam euphoria kamera digital yang kini bisa diakses dengan begitu murahnya, anak-anak di Sanggar Anak Tangguh memahami fungsi fotografi bukan sekedar sebagai pelampiasan ekses narsisme yang materialistis. Sekali lagi, di sini perlu ditegaskan bahwa anak-anak bisa menjadi subyek (pelaku atau aktor), fotografi dalam konteks yang amat luas, dan bukannya sebagai obyek fotografi – baik dalam konteks ideologis politis maupun dalam sudut komersial (eksploitasi komersial lewat iklan, dsb.).

Gender empowerment (pemberdayaan jantina) mungkin menjadi kredo yang tepat bagi Sanggar Anak Tangguh. Dengan mengkhususkan pada anak-anak perempuan, sanggar ini menjadi bagian dari upaya besar untuk memberikan kepercayaan diri  dan keterampilan fotografi, yang selama amat didominasi oleh pelaku fotografi laki-laki. Dengan kepercayaan diri serta keterampilan yang biasanya didominasi oleh laki-laki, para gadis fotografer cilik  ini berlatih untuk merambah dunia fotografi yang seharusnya  nir-gender (netral) dan untuk mendapatkan akses ke dunia lain yang bisa diwakili atau dilewati dengan fotografi. Dengan demikian, benih-benih kreatifitas yang diharapkan menjadi sebuah keterampilan, dan pada akhirnya membentuk expertise (keahlian), bisa melahirkan fotografer-fotografer kondang sekelas Annie Leibovitz, Sandy Skoglund, Joyce Tenneson, Barbara Rosenthal, Mary Ellen Mark dan Masumi Hayashi. Fotografer dunia di atas bisa dikatakan telah meruntuhkan sekat-sekat pamali (konvensi) yang tak terucap bahwa dunia fotografi  adalah hanya milik fotogtafer laki-laki.

Salah satu hal amat krusial lain dalam fotografi oleh anak-anak perempuan ini adalah bahwa banyak sekat-sekat tabu yang dibangun oleh tradisi dan kebudayaan, terutama di mana para perempuan diposisikan di sudut yang hanya bisa diungkapkan oleh laki-laki, ternyata hanyalah hal yang semu. Walaupun, dunia kreatif merupakan dunia yang nir-gender, anak-anak perempuan memiliki intuisi yang berbeda dengan intuisi laki-laki. Anak-anak perempuan Sanggar Anak Tangguh, melalui fotografinya, bisa menciptakan respon-respon visual atas tradisi dan budaya serta kebiasaan di lingkungan mereka dengan kacamata serta intuisi keperempuanan mereka. Seorang Shirin Neshat, fotografer kondang kelahiran Iran yang berimigrasi ke Inggris, menggunakan karya-karya fotografi monumentalnya untuk mencoba menciptakan respon visual fotografis terhadap tradisi dan kekuasaan yang represif terhadap perempuan di negara tersebut.

Mengamati karya anak-anak di Sanggar Anak Tangguh meneguhkan kembali peranan fotografi dalam dunia visual sebagai sarana penyampaian fakta. Dalam hal fotografi anak-anak Sanggar Anak Tangguh, bibit fotografi sebagai cikal bakal jurnalisme terungkap jelas dalam karya-karya mereka. Potret diri dalam berbagai posisi sebagai ekspresi narsisme sebagaimana dalam foto-foto anak menjelang usia reaja mereka, sama sekali tidak tampil. Berbekal kamera lomo serta kamera manual lainnya, anak-anak mencoba menyampaikan pengamatan mereka terhadap tema yang disuguhkan oleh Sanggar Anak Tangguh – Fasilitas Umum di Mata Anak-anak.

Dari sudut tema, terlihat jelas anak-anak telah mampu untuk menginterpretasikan tema menembus sekedar fasilitas umum yang merujuk pada bangunan-bangunan, atau tempat-tempat di mana publik melakukan aktivitas mereka,  dsb. Beberapa karya memang mengamati persoalan aktivitas saja – yaitu merekam fakta tanpa bumbu interpretasi atau menyodorkan sebuah gagasan. Gambar anak kucing yang mencoba menaiki dipan bambu, bebantenan dan dupa dengan asapnya yang terekam dengan apik dalam warna yang eksotik. Guratan atau kerut wajah seorang ibu tua beruban yang menghadirkan komposisi yang layak fotografis. Namun demikian, dari berbagai foto yang dipaparkan di sini, beberapa juga mencermati kehidupan dan aktivitas ekonomi di pasar, kegiatan keberagamaan di pura-pura, bahkan ada pula yang lebih menyoroti ekses-ekses kegiatan yang terjadi dalam fasilitas umum, misalnya persoalan sampah dan limbah. Bahkan, sebagai tambahan dari alam kehidupan yang terjadi di fasilitas umum, bebarapa juga menampilkan kuburan sebagai gerbang akhir dari alam kehidupan ini. Dalam konteks penjabaran tema inilah, foto-foto anak Sanggar Anak Tangguh amat menonjol dalam mengungkapkan gagasan yang hendak dibangunnya. Beberapa foto mampu mengisyaratkan kekuatan sensitifitas anak-anak terhadap problema sosial dan lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat umum.

Dalam ranah teknik dan estetika – gambar anak-anak di Sanggar Anak Tangguh patut mendapat apresiasi yang membanggakan. Walaupun toh kegiatan fotografi mereka tersebut mungkin dilaksanakan dalam  konteks exploring possibilities with cameras through fun and joy, secara teknik terlihat foto-foto tersebut memenuhi kaidah-kaidah fotografi yang umum. Depth of field, composition, colors and sharpness dsb. yang sering menjadi tolok ukur bagus atau tidaknya sebuah foto, muncul dengan kentara dalam foto-foto tersebut.

Sebagaimana yang digagas oleh Sanggar Anak Tangguh,  nampaknya, semangat  pameran ini bisa menggaungkan pula percikan perenungan pahlawan Perempuan Indonesia, Kartini yang tulisannya kepada teman korespondennya di Belanda, Ny. Abendanon terangkum dalam Habis Gelap Terbitlah Terang. Melalui kumpulan tulisannya Kartini mempertanyakan, mempersoalkan  dan melawan ketimpangan jantina yang akut dialami oleh kaum perempuan pada jamannya. Kartini mengawali pendidikan alternatif untuk anak-anak pribumi di rumahnya. Ia menyulut pelita pendidikan untuk anak-anak perempuan yang menjadi cikal bakal kesataraan dalam konteks moderen.

Kini, lebih dari seabad, melalui fotografi, anak-anak di Sanggar Anak Tangguh, berupaya merebut kembali atau menyambung hak-hak mereka terhadap akses ke pendidikan dan kemanusiaan yang setara. Tulisan Kartini semoga menginspirasi dan bermetamorfosis menjadi ungkapan-ungkapan visual yang diciptakan oleh anak-anak perempuan di Sanggar Anak Tangguh untuk menyuarakan gagasan, ide bahkan jati diri mereka sebagai perempuan.

Tuol Sleng sebagai sebuah sekolahan merupakan sebuah fasilitas umum yang seharusnya menjadi muara bagi anak-anak Kamboja untuk mereguk pendidikan berubah menjadi neraka bisu. Sanggar Anak Tangguh sebagai fasilitas umum, dengan segala kesederhanaan nan kebersahajaan-nya menjanjikan seteguk harapan segar bagi anak-anak yang haus akan pendidikan yang setara. Semoga dengan fotografi anak-anak ini bisa menggunakan mata mereka untuk melihat dunia sebagaimana apa adanya, melalui lensa mereka bisa memberikan makna pada dunia ini, dan dengan pikiran dan hati, semoga mereka bisa menjadikannya  tempat yang layak huni yang penuh damai

M. Bundhowi

Kurator/edukator/ seniman


[1] Tuol Sleng adalah  bekas sebuah sekolahan yang dijadikan penjara bagi orang-orang Kamboja yang dianggap sebagai penentang rezim komunis Pol Pot (1975). Tempat ini sekarang menjadi Museum Genosida. Dalam Bahasa Indonesia Tuol Sleng artinya Bukit Pepohonan Beracun.

[2] Bahkan setelah mereka dieksekusi, fotografer penjara Tuol Sleng mengambil foto-foto jasad mereka yang terbujur kaku dalam keadaan yang amat mengenaskan.

Tata Kelola Fasilitas Umum Merupakan Cerminan Peradaban Suatu Bangsa

Sebuah wawasan dari seorang fotografer perempuan ke anak-anak perempuan.

Sebelum saya bergabung dengan Yayasan Anak Tangguh, atau yang akrab disapa dengan nama Sanggar Anak Tangguh, saya selalu memendam harapan untuk membagikan skill dan pengalaman saya selama bekerja sebagai Female Documentary Photographer ke khayalak lain, dimana bidang fotografi yang ada sekarang ini masih didominasi oleh kaum pria. Tapi pada saat itu belum terbersit di benak saya untuk mengajarkan fotografi ke anak-anak, khususnya anak-anak perempuan, karena hal itu belum banyak di lakukan oleh kalangan umum. Selama ini kita hanya melihat anak-anak dan dunianya yang diekspos menjadi sebuah foto. Mereka berperan pasif sebagai subjek yang berada di depan kamera. Juga, karena persepsi kita sebagai orang dewasa yang sering kali menganggap bahwa pelajaran fotografi yang dibarengi dengan tema-tema yang mengangkat kepedulian sosial, budaya maupun lingkungan akan terlalu berat bagi anak-anak.

Tapi anggapan saya tersebut berubah ketika saya secara kebetulan bertemu dengan salah satu pengurus Sanggar Anak Tangguh dan memutuskan untuk berkunjung kesana. Setelah beberapa kali menyaksikan antusias belajar anak-anak di sanggar, saya tersadar bahwa ternyata masih banyak anak-anak yang begitu haus akan pendidikan dan pengetahuan baru. Jiwa kritis mereka, didukung oleh impian para orangtua siswa yang mengharapkan adanya pendidikan murah dan berkualitas pulalah yang menginspirasikan saya untuk merancang program fotografi untuk anak-anak dan membuka jalan bagi mereka untuk mengekspresikan diri, mengasah kreatifitas dan kepekaan terhadap masalah-masalah disekitar mereka melalui sebuah kamera.

Meskipun saya selalu menaruh kepercayaan penuh kepada setiap murid saya, melalui hasil karya foto yang saya saksikan, saya begitu terkejut dengan besarnya bakat dan potensi jurnalisme mereka yang sudah begitu nampak dari usia yang relatif terbilang muda. Teringat kembali suatu moment ketika kami memulai program fotografi ini, dimana ada seorang anak yang begitu gemetaran dan akhirnya menangis karena dia tidak pernah memiliki ataupun memegang kamera sebelumnya. Seiring dengan proses belajar dan latihan yang berlangsung selama lima bulan, satu persatu mereka mulai percaya diri dengan kemampuan mereka dalam mengambil gambar dan juga menjabarkan ide dan visi foto mereka melalui tulisan. Bagi saya pribadi, tolak ukur keberhasilan saya sebagai seorang pengajar bukanlah dari seberapa jauh mereka mengetahui teknik fotografi, tetapi dari seberapa besar minat mereka terhadap fotografi itu sendiri dan mempertahankan keinginan mereka untuk mengeksplorasi kemungkinan apa yang kamera bisa lakukan untuk menyampaikan kreatifitas mereka. Dengan bangga, saya bisa mengatakan bahwa anak-anak perempuan di Sanggar Anak Tangguh telah melampaui apa yang selama ini saya impikan.

Dalam kesempatan ini saya atas nama keluarga besar Yayasan Anak Tangguh, mengucapkan terima kasih atas bantuan dan dukungan dari semua pihak, baik yang berupa materi, pemikiran, dorongan semangat maupun masukan-masukan yang mengkaji dari sudut yang kritikal, untuk menjadikan program ini menjadi lebih berkualitas.

Semoga program ini menjadi fondasi dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keahlian anak-anak perempuan yang belajar di sanggar, menumbuhkan apresiasi dan meningkatkan kesadaran kesetaraan gender di kalangan anak-anak semenjak dini, juga menginspirasi segenap stakeholders untuk mewujudkan tata kelola fasilitas umum yang lebih baik lagi. Karena kami meyakini bahwa pengelolaan fasilitas umum merupakan cerminan peradaban suatu bangsa.

Terima kasih, dan mari kita bersulang untuk kemajuan anak-anak, karena mereka adalah harapan masa depan kita.

 Salam,

Sri Utami

“Educate a girl, and you educate a community” – African Proverb.

Alliance Francaise Denpasar mengajak para khalayak untuk menghadiri 14s Printemps des poetesMusim semi Penyair 2012”, yang bertajuk masa kanak-kanak.

Apasih 14s Printemps des poetesMusim semi Penyair 2012” itu?

Printemps des poètes / musim semi penyair diluncurkan pertama kali oleh Emmanuel Hoog bersama Jack Lang, animasi dengan Andre Velter selama 3 edisi pertama. Gagasan ini mendorong para artis untuk merayakan puisi, apapun bentuk ekspresinya seperti halnya fête de la musique yg diawali th 1982. Setiap edisi Musim Semi Penyair mencoba untuk menyoroti topik tertentu yang akan memungkinkan orang menulis sesuai dengan inspirasinya.  Setiap tahun, lebih dari 12.000 event dan perayaan lainnya dilaksanakan terutama di Prancis dan Quebec, didedikasikan untuk seni puisi Biasanya diadakan bulan Maret, pada beberapa hari terakhir menyambut kedatangan musim semi.

Ada apa aja sih di 14s Printemps des poetesMusim semi Penyair 2012” kali ini?

Kali ini AF Denpasar mengajak para khalayak untuk menikmati pameran foto dan lukisan yang merupakan kolaborasi dari Semut Ireng dan Anak Tangguh. Akan ada pembacaan puisi oleh anak-anak Ecole Internationale Francaise de Bali (EIFB), serta pembacaan puisi oleh Cok Sawitri yang akan diiringi petikan gitar oleh Dadang #pohontua – Dialog Dini Hari.

Para pengunjung juga dapat ikut berpartisipasi dalam Mural foto dan puisi interaktif. Untuk itu, diharapkan pengunjung membawa foto masa kanak-kanaknya untuk ditempelkan di mural interaktif.

Karena pameran ini dibuka untuk umum, ayok ajak teman-temanmu untuk datang pada hari Jumat, 16 Maret 2012. Mulai pukul 19.00 – 22.00 WITA, di Alliance Francaise de Denpasar, di Jalan Puputan 1 No. 13 A, Renon Denpasar. Acaranya gratis looo…

(sumber : @afdenpasar)

Posted by: anaktangguh | February 12, 2012

Photography Programme:Fasilitas Umum Di Mata Anak-Anak.

Yayasan Anak Tangguh yang memproklamirkan diri sebagai sanggar yang mengusung konsep pendidikan alternative. Salah satu alternative yang ditawarkan adalah menggunakan media kesenirupaan sebagai media dalam proses pembelajarannya. Sanggar Anak Tangguh juga sangat terbuka untuk bekerja sama, apalagi kerja sama yang terjalin didasari oleh rasa empati terhadap perjuangan untuk mewujudkan pendidikan yang murah dan berkualitas. Semangat keterbukaan dan solidaritas tercermin dari Misi Yayasan Anak Tangguh, yaitu : Setiap tempat adalah Sekolah, Setiap orang adalah Guru dan Setiap buku adalah Ilmu. Dalam program ini, dipilih photography sebagai media dalam proses pendidikanya. photography dipilih sebagai media dalam proses pendidikan, karena photography memiliki kekuatan sebagai media untuk berkreasi dan sekaligus sebagai media untuk mengapresiasi situasi dan kondisi lingkungan alam dan lingkungan sosialnya. Dalam program ini, dipilih satu tema yang dibahas adalah tentang “fasilitas umum”. Walaupun tema yang dipilih sama yaitu ‘fasilitas umum”, namun media pemotretan dilakukan secara beragam, mulai dari kamera mainan, kamera film, kamera digital, dan kamera SLR, bahkan ada satu kamera yang menarik yaitu satu kamera yang dapat merekam gambar 360 derajat.

Metoda pendekatan yang dipakai adalah metoda Monev Visual (monitoring dan evaluasi visual). Metoda ini dipakai sebagai metoda dalam merekam, menganalisa dan mengapresiasi kondisi fasilitas umum yang ada disekitar lingkungan anak-anak, oleh anak-anak. Tentunya cara ungkap yang diharapkan adalah cara ungkap anak-anak “sesuai dengan kaca mata anak-anak” bukan cara pandang orang dewasa. Anak-anak diajak larut dan menyatu dengan lingkungan yang sedang dibahas. Pembahasan dilakukan mulai dari diskusi secara inten, mengamati, meneliti dan melakukan proses perekaman dengan media memotret kondisi riil dilapangan. Dalam diskusi yang dilakukan oleh anak-anak mereka berhasil merumuskan apa saja yang termasuk fasilitas umum. Fasilitas umum menurut mereka antara lain : pura, pasar, pantai, lapangan, sungai, perpustakaan, sekolah, jalan raya, TPA (tempat pembuangan akhir), rumah sakit, hutan desa, dan lain-lain.

Dari foto-foto yang dihasilkan oleh anak-anak, kemudian dilakukan proses apresiasi yang dilakukan bersama antara anak-anak dan pendamping secara partisipatif. Dengan keyakinan “A Picture Tells a thousand words” sebuah gambar bisa menceritakan ribuan kata. Program ini, merupakan eksperimen, untuk mengkombinasikan antara pengetahuan tentang photography dan penumbuhan kesadaran kritis anak-anak dalam mengapresiasi lingkunaganya. Proses apresiasi yang dilakukan dimulai dari mengapresiasi “fasilitas umum” dengan cara memotret dan kemudian mengapresiasi fotonya.

Dalam berkarya 35 anak-anak perempuan yang didampingi oleh, Mba Sri Utami, seorang alumnus dari Allgonquin College, Jurusan Photography, Canada. Yang sebelumnya Mba Sri berprofesi sebagai documentary photographer, di beberapa internasional NGO di Afganistan dibawah PBB.

I Komang Adiartha, S Sn.

Founder Anak Tangguh Foundation

 

« Newer Posts - Older Posts »

Categories